Beramal dengan Ikhlas
- 07 Apr 2026 05:34 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Keikhlasan menjadi pondasi utama dalam setiap amal ibadah. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Muamar Kadafi dalam acara Mutiara Pagi RRI Nunukan yang mengingatkan pentingnya memurnikan niat hanya karena Allah SWT.
Dalam tausiyahnya, ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5 yang menegaskan bahwa manusia tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan. Menurutnya, setiap amal yang dilakukan harus dilandasi dengan sifat mukhlisin atau keikhlasan.
“Pondasi dalam beramal adalah keikhlasan. Jika niat kita bukan karena Allah, maka amal itu tidak akan sampai kepada-Nya,” katanya, Selasa (7/4/2026).
| Baca juga: Berlomba dalam Kebaikan |
Ia juga menekankan bahwa pemahaman agama serta lingkungan pergaulan sangat berpengaruh terhadap kualitas amal seseorang. Lingkungan yang baik akan mendorong seseorang untuk menjaga niat dan keikhlasan dalam beribadah.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali niat yang tulus tercampur dengan keinginan lain, seperti ingin dipuji atau diakui. Hal ini dapat merusak nilai amal. Ia pun memberikan ilustrasi sederhana seperti seorang petani yang menanam benih.
“Seperti petani yang memilih benih terbaik, merawat, menyiram, dan membersihkan dari gangguan hingga panen, begitu pula amal kita. Harus dijaga sejak niat hingga selesai,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa jika seseorang beramal hanya untuk mendapatkan penilaian manusia, maka ia akan merasa lelah dan tidak mendapatkan nilai di sisi Allah. Dalam dunia kerja misalnya, bekerja semata-mata untuk penilaian atasan akan menimbulkan kelelahan batin.
Sebaliknya, jika pekerjaan diniatkan untuk meraih ridha Allah, maka akan terasa lebih ringan dan bernilai ibadah. Ia juga mengutip firman Allah yang menyebutkan bahwa memberi sesuatu hendaknya hanya mengharapkan keridhaan-Nya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa salah satu bentuk keikhlasan terbaik adalah beramal secara sembunyi-sembunyi. Hal ini menjadi cara efektif untuk menghindari riya atau pamer dalam beribadah.
Ia juga mengutip pesan ulama bahwa jati diri seseorang tercermin dari apa yang dilakukan ketika tidak ada orang yang melihat. Ini menjadi pengingat bahwa Allah senantiasa menyaksikan seluruh perbuatan manusia.
“Orang yang ikhlas akan terhindar dari hal-hal yang memalingkan fokusnya dalam beribadah. Amal yang ikhlas tidak akan sia-sia,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mengajak umat untuk menerima segala pemberian Allah dengan hati yang bersih dan lapang, tanpa keluhan, sebagai bentuk keikhlasan dalam kehidupan.
Di akhir tausiyah, ia membagikan dua langkah utama untuk menjaga keikhlasan, yakni memurnikan niat hanya karena Allah, serta menjaga niat tersebut hingga amal selesai dilakukan.
“Ketika di tengah amal muncul rasa ingin dipuji dan itu memotivasi kita untuk mengulanginya demi pujian, maka keikhlasan bisa rusak. Karena itu, hati harus terus dijaga,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....