Menjemput Berkah lewat Keikhlasan: Kisah Pembersih Makam di Nunukan

  • 16 Mar 2026 11:35 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Suasana di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jaya Sakti dan Pemakaman Umum Muslim di Jalan Pahlawan, Kelurahan Nunukan Timur pada Sabtu (14/3/2026) pukul 11.00 WITA tampak lengang. Di bawah sengatan matahari, hanya ada segelintir sosok yang masih beraktivitas di antara barisan nisan, salah satunya adalah Slamet (50) Tahun.

Sudah lima tahun terakhir, pria paruh baya ini mengakrabkan diri dengan gundukan tanah dan batu nisan. Menggenggam sapu, ia pun menyisir setiap sudut makam demi memastikan tempat peristirahatan terakhir itu tetap asri.

"Pekerjaan saya cuma ini saja, pembersih makam. Sudah mau jalan lima tahun lebih di sini. Dulu awalnya di Makam Kampung Jawa dekat Bhayangkara, lalu pindah ke makam di Tanjung belakang masjid, dan terakhir menetap di sini," ujarnya.

Slamet merupakan petugas kebersihan di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nunukan. Rutinitasnya dimulai sejak pukul 07.00 pagi hingga menjelang siang.

Di bulan Ramadan ini, beban kerjanya sedikit bertambah seiring persiapan menyambut Lebaran, saat keluarga peziarah mulai berdatangan.

Berbalut kaus lusuh dan peci putih, Slamet tampak telaten membersihkan makam. Sesekali ia merunduk, mencabut rumput liar, lalu menyapunya ke pinggir jalur makam.

"Tugasnya menyapu dan mencabut rumput. Apalagi mau Lebaran begini, rumput-rumput harus dibersihkan semua supaya rapi. Sampahnya juga disapu sampai bersih," ucapnya.

Bagi banyak pembersih makam musiman, momentum Ramadan dan menjelang Idulfitri adalah ladang untuk meraup rezeki lebih, namun tidak bagi Slamet. Meski ia merupakan tulang punggung bagi lima orang anggota keluarganya, ia tidak pernah mematok tarif kepada keluarga ahli waris yang meminta bantuannya untuk merawat makam secara khusus.

"Kalau ada keluarga yang suruh pelihara makamnya, ya saya kerjakan. Kalau mereka kasih uang, saya terima Alhamdulillah. Kalau tidak ada, ya saya ikhlaskan saja. Saya prinsipnya saling tolong-menolong saja sama orang," tuturnya.

Terik matahari Nunukan tentu menjadi tantangan berat baginya. Slamet tak menampik rasa lelah sering kali menghampiri, namun semangatnya untuk beribadah di bulan ramadan tak lantas padam.

Meski tak pandai mengaji, ia tetap menjaga salat lima waktu dan rutin menunaikan tarawih dengan berpindah-pindah masjid demi mencari suasana baru.

"Puasa insyaallah masih penuh. Kalau tarawih saya pindah-pindah masjid, kadang di Al-Muttaqin, Al-Mujahidin, atau masjid di atas sana. Ya, biar ganti-ganti suasana saja," katanya.

Upah bulanan yang diterimanya mungkin terasa kecil bagi sebagian orang, namun baginya, itu adalah berkah untuk menghidupi keluarganya. Di balik nisan-nisan pahlawan yang ia bersihkan, ada napas perjuangan seorang ayah yang tak pernah mengeluh meski harus bertarung dengan peluh dan dahaga di bulan yang suci ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....