Ramadan Momentum Istimewa Menebarkan Kepedulian Sosial Antar Sesama

  • 06 Mar 2026 11:06 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan : Bulan suci Ramadan menjadi momentum istimewa untuk menebarkan rahmat dan memperkuat kepedulian sosial. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih empati, menumbuhkan solidaritas, serta mempererat hubungan antar sesama. Dalam pemaparannya, Ustaz Zaim Fatoni menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan pembuktian Islam sebagai rahmatan lil alamin, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107. Menurutnya, ajaran Islam tidak hanya bersifat spiritual individual, tetapi juga memiliki misi sosial yang nyata.

Ustaz Zaim Fatoni menjelaskan, puasa merupakan madrasah empati. Dengan merasakan lapar, umat Islam diajak memahami penderitaan kaum dhuafa. Dari sinilah lahir solidaritas sosial. Rasulullah SAW, juga menjanjikan pahala besar bagi siapa pun yang memberi makan orang berbuka puasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa puasa membangun sensitivitas sosial dan semangat berbagi.

Ramadan identik dengan zakat dan sedekah sebagai sistem distribusi sosial dalam Islam. Zakat fitrah berfungsi membersihkan jiwa dari sifat kikir dan angkuh, sekaligus membantu masyarakat kurang mampu menjelang Idulfitri. Sementara zakat mal berperan mengurangi ketimpangan ekonomi serta mendorong keadilan sosial. Jika dikelola optimal, zakat dan sedekah dapat menjadi instrumen pemberdayaan umat, bukan sekadar bantuan sesaat.

Ustaz Zaim Fathoni juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlak selama berpuasa. Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW agar orang yang berpuasa menghindari perkataan kotor dan perdebatan. Jika dihina, cukup mengatakan, “Saya sedang berpuasa.” Nilai ini, menurutnya, menjadi solusi untuk meredam konflik sosial dan membangun kedamaian.

Lebih lanjut Ustaz Zaim Fathoni mengatkan bahwa Ramadan harus melahirkan perubahan sosial. “Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proyek perbaikan umat. Apakah ia hanya mengubah jadwal makan, atau juga mengubah cara kita memperlakukan sesama?” ujarnya. Ia berharap semangat menebar rahmat tidak berhenti di bulan suci, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya masyarakat yang adil, peduli,dan sejahtera.(26/02/2026)

Tantangan di era digital saat ini yaitu fenomena pamer sedekah di media sosial yang berpotensi mengurangi keikhlasan dan amal kebaikan sebaiknya dilakukan dengan niat tulus karena Allah SWT, bukan untuk mencari pengakuan. Ramadan mengajarkan integritas moral, bahwa setiap amal diawasi langsung oleh Allah, sehingga kejujuran dan ketulusan menjadi fondasi utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....