Kenali Risiko Kelelahan Suara saat Suara Jadi Alat Kerja
- 02 Okt 2026 00:37 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan : Suara bukan sekadar alat komunikasi. Bagi penyiar, guru, penyanyi, pembawa acara, petugas layanan pelanggan hingga tenaga kesehatan, suara adalah bagian penting dari pekerjaan. Namun, terlalu sering digunakan tanpa jeda dapat membuat suara serak, berat, cepat habis, bahkan sulit keluar. Kondisi ini dikenal sebagai kelelahan suara atau vocal fatigue, dan menurut Kemenkes, tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan biasa.
Kemenkes menjelaskan, kelelahan suara terjadi ketika suara digunakan dalam waktu lama sehingga pita suara dan otot di sekitarnya mengalami kelelahan. Kondisi ini lebih berisiko dialami mereka yang menggunakan suara secara intensif, seperti guru dan dosen, penyanyi, penyiar radio dan televisi, pembawa acara, penceramah, petugas call center, customer service, instruktur olahraga, hingga pemandu wisata.
Risiko tersebut semakin besar ketika seseorang berbicara terlalu keras, terutama di lingkungan yang bising. Berbicara terus-menerus tanpa memberikan waktu istirahat, berteriak, atau memaksakan suara saat tenggorokan sudah tidak nyaman juga dapat meningkatkan beban pada pita suara. Selain itu, udara kering, debu, asap, kurang minum, kebiasaan merokok, alergi, batuk berkepanjangan, refluks asam lambung, stres, dan kurang tidur juga dapat memperburuk kondisi.
Tandanya Kelelahan suara dapat ditandai suara terasa berat, serak atau parau, cepat habis, volume menurun, hingga perubahan nada suara. Tenggorokan juga bisa terasa kering, gatal, panas atau tidak nyaman. Sebagian orang bahkan merasa harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk berbicara, sering berdeham, atau mengalami rasa tegang dan nyeri pada leher maupun tenggorokan setelah banyak menggunakan suara.
Untuk mencegahnya, Kemenkes menganjurkan agar suara diberi waktu istirahat, terutama setelah digunakan dalam waktu lama. Pastikan tubuh cukup terhidrasi dengan minum air putih secara teratur, hindari berteriak maupun berbicara terlalu keras, dan gunakan mikrofon atau pengeras suara jika harus berbicara di ruangan luas atau bising. Teknik berbicara yang tepat juga penting agar suara tidak dipaksakan.
Lingkungan kerja pun ikut menentukan kesehatan suara. Tempat kerja dapat membantu dengan mengurangi kebisingan, menyediakan alat bantu suara, serta mengatur jadwal agar pekerja memiliki jeda untuk beristirahat. Bagi pekerja yang sangat bergantung pada suara, edukasi mengenai penggunaan suara yang benar dan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dapat membantu mendeteksi gangguan lebih dini.
Jika suara serak atau berubah tidak membaik setelah lebih dari dua minggu, suara sering hilang, sulit berbicara hingga mengganggu pekerjaan, atau disertai sulit menelan dan keluhan lain, Kemenkes menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Sebab, keluhan yang menetap dapat menjadi tanda adanya gangguan pada pita suara yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Jadi, bagi mereka yang menjadikan suara sebagai alat kerja, jangan tunggu suara benar-benar hilang untuk mulai menjaganya.(Sumber.Kemenkes)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....