Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Kedaulatan Teknologi Indonesia
- 14 Sep 2026 00:24 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Penguatan kedaulatan teknologi Indonesia membutuhkan ekosistem yang mampu melibatkan talenta, termasuk ilmuwan diaspora, tanpa mengharuskan mereka selalu kembali secara permanen. Ilmuwan Indonesia di luar negeri dapat berkontribusi sebagai co-supervisor mahasiswa, membuka akses fasilitas penelitian, memimpin konsorsium, berbagi protokol, membangun perusahaan rintisan, hingga membantu proses transfer teknologi. Pemerintah dapat mendukung melalui skema visiting professorship, joint laboratory, sabbatical nasional, hibah kolaboratif, maupun jalur kepulangan yang memberikan penghargaan terhadap kompetensi.
Selain sumber daya manusia, kemampuan bekerja lintas sektor menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi. Penelitian stem cells membutuhkan kolaborasi dokter, ahli biologi sel, bioinformatikawan, insinyur biomaterial, pakar regulasi dan etik, ekonom kesehatan, industri, rumah sakit, serta komunitas pasien. Sementara pengembangan nanoteknologi memerlukan keterlibatan kimiawan, fisikawan, farmasis, insinyur, toksikolog, ilmuwan lingkungan, hingga pelaku manufaktur.
Karena itu, ego sektoral perlu dikurangi melalui peta jalan lintas kementerian dan lembaga yang memiliki target jelas dan terukur. Pemerintah bersama perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan sektor kesehatan perlu menentukan bahan baku yang harus dikuasai, fasilitas yang perlu dibangun bersama, penyakit prioritas yang hendak ditangani, standar mutu yang harus dipenuhi, hingga target masuknya hasil penelitian ke tahap manufaktur.
Infrastruktur penelitian yang membutuhkan biaya besar juga tidak harus dibangun secara berulang di setiap institusi. Pengembangan fasilitas inti nasional yang dapat digunakan secara adil, diaudit secara transparan, didukung teknisi profesional, serta dikelola dengan standar internasional dinilai dapat memperkuat efisiensi dan kualitas riset. Langkah tersebut sekaligus membantu mempercepat proses dari penelitian dasar menuju inovasi yang siap dikembangkan.
Tantangan berikutnya adalah melewati “lembah kematian” inovasi, yaitu jarak antara temuan akademik dan produk yang benar-benar dapat digunakan masyarakat. Untuk itu, Indonesia membutuhkan rantai translasi yang utuh, mulai dari biobank dan basis data yang terlindungi, laboratorium karakterisasi, fasilitas produksi berstandar good manufacturing practice, pusat uji toksikologi, jejaring uji klinis, hingga unit transfer teknologi dan mekanisme pengadaan yang mendukung inovasi dalam negeri. Keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi dan seminar, tetapi juga dari paten yang dimanfaatkan, produk yang memenuhi standar, terciptanya lapangan kerja, efisiensi biaya kesehatan, dan manfaat nyata bagi masyarakat. ( Sumber : Kemkes Ri )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....