Indonesia Dorong Kedaulatan Teknologi lewat Bioteknologi dan Nanoteknologi
- 14 Sep 2026 00:23 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Indonesia memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang besar. Namun, tantangan bangsa saat ini bukan lagi sekadar mengetahui dan memiliki kekayaan tersebut, melainkan bagaimana mengolahnya menjadi pengetahuan, teknologi, dan kemaslahatan bagi masyarakat. Kedaulatan teknologi menjadi penting agar kekayaan biodiversitas, sumber daya laut, mineral, serta talenta Indonesia dapat memberikan nilai tambah dan tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah melalui teknologi stem cells atau sel punca dan nanoteknologi. Sel punca memiliki potensi dalam penelitian penyakit, pemodelan kerusakan jaringan, pengembangan obat, hingga terapi regeneratif. Sementara itu, nanoteknologi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem penghantaran obat, mendeteksi biomarker lebih dini, menghasilkan biomaterial, serta mendukung berbagai inovasi di bidang kesehatan dan lingkungan.
Indonesia perlu memastikan agar perkembangan teknologi tersebut tidak hanya menjadikan masyarakat sebagai konsumen. Kedaulatan teknologi berarti memiliki kemampuan dalam menentukan arah penelitian, menguasai proses produksi, menjamin mutu, melindungi data, membangun kekayaan intelektual, dan memastikan hasil inovasi dapat dimanfaatkan masyarakat. Kerja sama internasional tetap diperlukan, tetapi harus dibangun secara setara sehingga Indonesia mampu menjadi mitra yang memiliki kapasitas, bukan sekadar bergantung pada teknologi dari negara lain.
Kekayaan biodiversitas Indonesia juga menjadi modal penting dalam pengembangan bioteknologi. Berbagai tumbuhan, biota laut, mikroorganisme, enzim, dan bahan alam berpotensi menjadi sumber penelitian untuk menghasilkan senyawa bioaktif maupun biomaterial. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara bertanggung jawab melalui proses ilmiah, mulai dari autentikasi spesies, standardisasi bahan, pengujian toksisitas, penelitian praklinis, uji klinis, hingga pemantauan keamanan. Pengetahuan masyarakat dan kearifan lokal dapat menjadi sumber pertanyaan penelitian, tetapi tetap harus diuji secara ilmiah sebelum dikembangkan menjadi produk kesehatan.
Pengembangan teknologi sel punca dan nanoteknologi juga membutuhkan sumber daya manusia unggul, termasuk peneliti dan profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri. Mobilitas talenta tidak harus dipandang sebagai kehilangan, tetapi dapat diarahkan menjadi brain circulation melalui pertukaran pengetahuan, jejaring penelitian, investasi, serta kolaborasi dengan pusat riset dan industri global. Dengan memperkuat biodiversitas, sumber daya manusia, riset, industri, dan tata kelola, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah kekayaan yang dimiliki menjadi kekuatan teknologi yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. ( Sumber : Kemkes Ri )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....