Garis Tipis Diet Ketat dan Bahaya Anoreksia
- 31 Agt 2026 14:46 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan – Tren gaya hidup masa kini menciptakan standar tertentu yang memicu masyarakat berlomba menjalani diet ketat. Namun, kebiasaan yang dianggap sehat ini justru bisa berubah menjadi sinyal bahaya yang mengarah pada anoreksia.
Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan serius yang ditandai dengan penurunan berat badan drastis akibat pembatasan konsumsi makanan secara berlebihan. Pada umumnya, penderita mengalami krisis percaya diri dan selalu merasa bertubuh gemuk meski kenyataannya sangat kurus.
Gejala utamanya terlihat dari penurunan berat badan yang signifikan serta kebiasaan sengaja menghindari makanan. Penderita juga kerap berolahraga secara berlebihan, menggunakan obat pencahar, hingga menyiksa diri dengan rasa bersalah tiap selesai makan.
Dampak penurunan berat badan secara drastis ini dapat memicu kelelahan ekstrem, tekanan darah drop, hingga rambut rontok. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berisiko memicu komplikasi serius seperti hipoglikemia hingga gangguan hormon kesuburan.
Secara medis, diagnosis anoreksia merujuk pada kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5). Kriteria ini mencakup pembatasan asupan nutrisi yang ekstrem, ketakutan intensif akan kegemukan, serta gangguan persepsi terhadap bentuk tubuh sendiri.
Selain wawancara klinis, dokter biasanya memerlukan pemeriksaan darah untuk memantau kadar hemoglobin, gula darah, dan elektrolit pasien. Selanjutnya, proses pengobatan akan melibatkan pendekatan holistik untuk memulihkan kondisi fisik sekaligus mental penderita.
Masyarakat perlu memahami kembali bahwa diet yang benar bertujuan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jangka panjang. Jangan sampai ikhtiar hidup sehat tersebut malah berubah menjadi ketakutan obsesif terhadap timbangan.
Edukasi mengenai citra tubuh dan pola makan yang rasional memegang peranan kunci dalam memutus rantai gangguan makan ini. Diskusi terbuka mengenai bahaya diet ekstrem juga harus terus digalakkan di lingkungan keluarga maupun sosial.
Langkah pencegahan ini perlu diperkuat dengan membangun harga diri yang positif serta komunikasi yang hangat sejak dini. Mendorong keterbukaan tentang kesehatan mental dapat membantu lingkungan sekitar mengenali gejala awal anoreksia lebih cepat.
Sumber: ayosehat.kemkes.go.id
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....