Satu Dari Sembilan Ribu Jiwa Menderita Albinisme

  • 26 Agt 2026 10:09 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan — Di tengah miliaran manusia yang lalu-lalang menyusuri rutinitas harian, terdapat potret kehidupan yang berjalan dalam kesunyian berbeda. Mereka adalah individu dengan albinisme, kondisi genetik langka yang ditandai dengan minimnya atau tidak adanya produksi melanin dalam tubuh. Di berbagai kawasan dunia, data epidemiologi mencatat bahwa prevalensi kondisi ini berfluktuasi cukup signifikan, di mana pada populasi tertentu perkiraan rasio menunjukkan angka satu dari 9.000 orang lahir dengan albinisme.

Secara genetika, albinisme bukanlah sebuah penyakit menular, melainkan warisan gen resesif yang dibawa oleh kedua orang tua. Mutasi pada gen-gen penentu produksi melanin menyebabkan keterbatasan pigmen pada kulit, rambut, serta retina mata. Akibatnya, alih-alih memiliki pigmen dominan sesuai garis keturunan etnisnya, seorang anak terlahir dengan helai rambut putih kemerahan serta kulit melati yang sangat pucat.

Bagi individu yang berada pada angka satu di antara 9.000 populasi tersebut, tantangan terbesar tidak melulu hadir dari dalam tubuh, melainkan dari paparan lingkungan luar. Melanin berfungsi sebagai benteng alami manusia dalam menyerap radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari. Tanpa proteksi melanin yang memadai, sel-sel kulit penderita albinisme rentan mengalami hipotermia lokal, kerusakkan DNA seluler, hingga ancaman karsinoma sel skuamosa atau kanker kulit pada usia muda.

Tak hanya pada ranah dermatologis, dampak albinisme merambat secara signifikan pada organ penglihatan. Perkembangan retina yang tidak sempurna serta ketiadaan pigmen pada iris memicu berbagai gangguan optik, mulai dari nistagmus (gerakan bola mata yang tidak terkendali), fotofobia terhadap cahaya terang, hingga penurunan tajam penglihatan atau low vision. Aktivitas membaca tulisan di papan tulis kelas atau menyeberang jalan raya kerap menjadi perjuangan fisik yang menguras energi.

Sayangnya, pemahaman masyarakat mengenai anomali genetika ini masih diwarnai oleh kabut mitos dan stigma sosial. Di beberapa daerah belahan dunia, minimnya literasi sains memicu hadirnya label diskriminatif yang mengisolasi penderita albinisme dari pergaulan sosial. Pandangan mata yang merendahkan, stereotip miskonsepsi, hingga batasan dalam mengakses pekerjaan formal kerap kali menjadi tembok tinggi yang harus mereka robohkan setiap hari.

Realitas psikologis ini meletakkan beban ganda di pundak para penderita albinisme. Selain harus beradaptasi dengan keterbatasan fisik dan risiko kesehatan yang mengintai, mereka dituntut memiliki daya tahan mental yang luar biasa untuk menghadapi tatapan penuh keheranan dari publik. Perasaan terasing di tengah keramaian menjadi santapan harian yang menuntut kedewasaan emosional sejak usia kanak-kanak.

Di ranah pendidikan dan pekerjaan, penyediaan sarana inkusif masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Anak-anak dengan albinisme sering kali dianggap lambat belajar hanya karena papan tulis terasa buram bagi mata mereka, padahal kapasitas intelektual mereka setara dengan anak-anak lainnya. Tanpa intervensi alat bantu penglihatan seperti kacamata khusus atau materi cetak berukuran besar, potensi akademis mereka berisiko terhambat oleh hambatan teknis yang tidak disadari lingkungan sekolah.

Meski tantangan membentang lebar, tren kesadaran global kini mulai menunjukkan arah pergerakan yang positif. Edukasi publik mengenai kesehatan kulit, penyediaan tabir surya (sunscreen) ber-SPF tinggi, kacamata pelindung UV, serta advokasi hak-hak disabilitas penglihatan terus digalakkan oleh berbagai komunitas kemanusiaan. Langkah-langkah preventif ini terbukti efektif menekan angka komplikasi medis dan meningkatkan angka harapan hidup para penderita albinisme.

Pada akhirnya, angka satu dari 9.000 jiwa bukanlah sekadar statistik rasio genetika di atas kertas angka-angka. Di balik representasi angka tersebut, ada narasi ketangguhan manusia yang berjuang menegakkan martabatnya di tengah keterbatasan fisik dan sosial. Membuka mata dan ruang penerimaan yang inklusif adalah kewajiban kolektif, agar setiap orang yang terlahir dengan albinisme dapat berjalan tegak di bawah sinar matahari tanpa rasa takut.

(Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....