Deteksi Dini Retinoblastoma Selamatkan Penglihatan dan Nyawa Anak

  • 22 Jul 2026 10:11 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Retinoblastoma merupakan kanker mata yang berasal dari retina, yaitu lapisan di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya. Penyakit ini dapat tumbuh ke dalam bola mata maupun menyebar ke luar hingga menembus jaringan di sekitarnya. Retinoblastoma dapat menyerang satu mata (unilateral) atau kedua mata (bilateral) dan paling sering ditemukan pada bayi serta anak berusia di bawah tiga tahun. Penyakit ini juga menjadi salah satu jenis tumor padat yang paling banyak dijumpai pada bayi dan balita.

Retinoblastoma terjadi akibat mutasi pada gen RB1 dan terbagi menjadi dua jenis, yaitu herediter (diturunkan) dan non-herediter (tidak diturunkan). Pada retinoblastoma non-herediter, mutasi terjadi secara spontan setelah anak lahir dan umumnya hanya menyerang satu mata. Sementara itu, retinoblastoma herediter berkaitan dengan riwayat keluarga yang membawa mutasi gen RB1, biasanya muncul sejak usia sangat dini, bahkan sejak bayi baru lahir, dan lebih sering menyerang kedua mata. Anak yang memiliki riwayat keluarga retinoblastoma dianjurkan menjalani pemeriksaan mata rutin sejak lahir, dengan pemeriksaan pertama dilakukan paling lambat satu bulan setelah kelahiran.

Orang tua perlu mengenali tanda dan gejala retinoblastoma sedini mungkin. Gejala yang paling khas adalah leukokoria atau "mata kucing", yaitu kondisi ketika pupil memantulkan cahaya putih, abu-abu, kekuningan, atau keperakan saat terkena cahaya, bukan berwarna merah seperti mata normal. Tanda lainnya meliputi mata juling (strabismus), kesulitan mengikuti gerakan benda, mata merah atau bengkak tanpa penyebab yang jelas, nyeri pada mata yang membuat anak lebih rewel, mata tampak menonjol, hingga penurunan penglihatan yang sering tidak disadari apabila hanya satu mata yang terdampak.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan penunjang, seperti USG mata, CT scan, dan MRI guna mengetahui keberadaan serta penyebaran tumor. Diagnosis pasti umumnya ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan bola mata yang diangkat melalui tindakan enukleasi. Sementara itu, biopsi menggunakan jarum tidak dianjurkan karena berisiko menyebabkan penyebaran sel kanker ke jaringan mata lainnya.

Retinoblastoma merupakan satu-satunya kanker pada anak yang dapat dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan sederhana. Di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, deteksi awal dapat dilakukan menggunakan senter untuk melihat pantulan cahaya pada mata atau melalui Tes Refleks Merah (Red Reflex Test) menggunakan oftalmoskop. Jika pantulan merah tidak terlihat atau justru tampak putih, anak harus segera dirujuk ke dokter spesialis mata. Deteksi dini terbukti meningkatkan peluang kesembuhan, mempertahankan fungsi penglihatan, serta menurunkan angka kematian akibat retinoblastoma, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....