Retinoblastoma, Kanker Mata Anak yang Bisa Dideteksi sejak Dini
- 05 Jul 2026 21:19 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan : Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap retinoblastoma, yaitu kanker mata yang menyerang retina atau lapisan belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya. Penyakit ini paling sering ditemukan pada bayi dan anak berusia di bawah tiga tahun, serta menjadi salah satu tumor padat yang cukup banyak terjadi pada kelompok usia tersebut. Meski tergolong ganas, retinoblastoma memiliki peluang kesembuhan yang tinggi apabila dideteksi dan ditangani sejak dini.
Retinoblastoma terjadi akibat mutasi pada gen RB1 yang menyebabkan pertumbuhan sel retina menjadi tidak terkendali. Penyakit ini dapat bersifat non-herediter, yakni muncul secara spontan setelah anak lahir dan umumnya menyerang satu mata, maupun herediter yang diturunkan dari orang tua sehingga lebih sering menyerang kedua mata sejak usia sangat dini. Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan retinoblastoma dianjurkan menjalani pemeriksaan mata sejak bulan pertama setelah kelahiran.
Orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal retinoblastoma. Gejala yang paling khas adalah leukokoria atau pantulan putih pada pupil mata saat terkena cahaya atau difoto menggunakan lampu kilat. Selain itu, anak dapat mengalami mata juling, kesulitan mengikuti gerakan benda, mata merah atau bengkak tanpa sebab yang jelas, mata tampak menonjol, hingga keluhan nyeri yang membuat anak menjadi lebih rewel. Penurunan penglihatan sering kali tidak disadari, terutama jika hanya satu mata yang terkena.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh yang dapat dilengkapi dengan USG mata, CT scan, maupun MRI guna mengetahui ukuran dan penyebaran tumor. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa biopsi tidak dianjurkan pada kasus retinoblastoma karena berisiko menyebabkan penyebaran sel kanker ke jaringan lain di sekitar mata.
Salah satu keunggulan dalam penanganan retinoblastoma adalah penyakit ini dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan sederhana. Tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan dasar dapat melakukan pemeriksaan pantulan cahaya mata menggunakan senter maupun Tes Lihat Merah (red reflex test) dengan oftalmoskop. Bila pantulan merah tidak muncul atau terlihat putih, anak harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Deteksi dini terbukti mampu meningkatkan angka kesembuhan sekaligus menurunkan risiko kematian akibat retinoblastoma.
Penanganan retinoblastoma disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pilihan terapi meliputi kemoterapi untuk mengecilkan atau membasmi sel kanker, radioterapi pada kondisi tertentu, hingga operasi pengangkatan bola mata atau enukleasi apabila tumor sudah sangat besar dan penglihatan tidak dapat dipertahankan. Setelah operasi, pasien dapat menggunakan mata palsu yang disesuaikan dengan bentuk dan warna mata sehingga tetap memberikan hasil estetis yang baik.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa setelah pengobatan selesai, anak tetap memerlukan pemantauan rutin selama sedikitnya dua tahun untuk memastikan tidak terjadi kekambuhan maupun penyebaran kanker. Selain pengawasan medis, dukungan psikologis bagi anak dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Dengan kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal serta pemeriksaan sejak dini, peluang anak untuk sembuh dan mempertahankan fungsi penglihatannya akan semakin besar. (Sumber.Kemenkes)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....