Gizi Presisi Butuh Tata Kelola dan Implementasi Kuat

  • 18 Mei 2026 14:47 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Konsep gizi presisi kini semakin mendapat perhatian dalam pembangunan kesehatan nasional. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih personal karena mempertimbangkan keragaman respons biologis setiap individu. Namun di balik potensinya, implementasi gizi presisi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan mendasar.

Dalam berbagai pembahasan kebijakan kesehatan, gizi presisi kerap terdengar menjanjikan. Akan tetapi, tantangan terbesar justru terletak pada disiplin pelaksanaan program secara konsisten. Tata kelola data kesehatan yang aman dan etis menjadi syarat utama agar pemanfaatan teknologi tidak menimbulkan persoalan baru di masyarakat.

Selain itu, standar keamanan pangan dan protokol interpretasi data harus disusun secara baku. Langkah tersebut penting agar tenaga kesehatan memiliki pedoman yang jelas dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Tanpa standar yang kuat, risiko kesalahan informasi dan kebingungan publik dapat semakin meningkat.

Pemerintah juga dinilai perlu membangun komunikasi risiko yang jujur dan transparan. Pasalnya, tidak seluruh temuan berbasis omics atau data biologis telah siap diterapkan menjadi nasihat klinis secara luas. Evaluasi dampak program pun harus dilakukan secara berkelanjutan agar kebijakan kesehatan tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan tanpa hasil nyata.

Di Indonesia, tantangan utama bukan lagi pada keberadaan ilmu gizi presisi, melainkan bagaimana memastikan manfaatnya dapat dirasakan seluruh masyarakat secara adil. Gizi presisi pada akhirnya menjadi cara baru dalam memandang pembangunan manusia, bahwa tubuh setiap warga memiliki respons biologis yang berbeda dan tidak dapat disamaratakan. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....