Nutrigenomics 6.0 Perkuat Gizi Presisi Berbasis Data Nasional

  • 17 Mei 2026 15:15 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam layanan gizi kini diarahkan lebih bertanggung jawab melalui konsep Nutrigenomics 6.0. Dalam artikel “Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya” dari Kementerian Kesehatan RI, dijelaskan bahwa AI dan machine learning dapat digunakan untuk mendukung layanan kesehatan, namun harus tetap berada dalam pagar ilmiah yang ketat dan berbasis validasi data. Korelasi data tidak boleh langsung dianggap sebagai hubungan sebab-akibat tanpa pembuktian yang kuat.

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa model AI harus terus diawasi karena perubahan pola populasi, gaya hidup, hingga alat ukur dapat memengaruhi hasil analisis. Fenomena ini dikenal sebagai drift, yaitu kondisi ketika performa model berubah seiring perubahan data yang masuk. Karena itu, Nutrigenomics 6.0 mendorong penggunaan pendekatan N-of-1, yakni pengujian intervensi secara berulang pada individu yang sama untuk memastikan perubahan biologis benar-benar berasal dari intervensi yang diberikan, bukan akibat faktor kebetulan atau efek placebo.

Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan arah besar Transformasi Kesehatan Indonesia, terutama penguatan layanan primer dan pemanfaatan teknologi kesehatan. Puskesmas, Posyandu, serta jejaring kader kesehatan disebut menjadi fondasi paling realistis dalam penerapan gizi presisi karena berhubungan langsung dengan masyarakat sehari-hari. Layanan primer dipandang mampu menjalankan fungsi skrining risiko, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan, hingga tindak lanjut kesehatan secara berkesinambungan.

Teknologi dalam sistem ini berperan sebagai pengungkit untuk memperbaiki kualitas layanan kesehatan masyarakat. Mulai dari pencatatan data yang lebih tertib, pengurangan putus tindak lanjut pasien, percepatan rujukan saat ditemukan tanda bahaya, hingga membantu interpretasi data kesehatan secara lebih cepat dan akurat. Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, pemantauan gizi dan kesehatan masyarakat diharapkan tidak lagi bersifat musiman, tetapi berjalan secara terus-menerus dan adaptif terhadap kondisi lapangan.

Kementerian Kesehatan RI menilai versi paling realistis penerapan Nutrigenomics 6.0 di Indonesia bukanlah pemeriksaan omics untuk seluruh masyarakat, melainkan penguatan protokol data, indikator kesehatan yang konsisten, tenaga kesehatan terlatih, dan sistem umpan balik yang efektif. Program gizi yang baik tidak hanya menghitung porsi makanan, tetapi juga mampu membuktikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar memperbaiki respons biologis, meningkatkan fungsi tubuh, menurunkan risiko penyakit, serta tetap adil bagi masyarakat yang beragam. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....