Kelor Berpotensi Jadi Infrastruktur Gizi Berbasis Bukti Nasional

  • 17 Mei 2026 15:10 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Pemanfaatan kelor atau Moringa oleifera dinilai dapat berkembang lebih jauh sebagai bagian dari intervensi gizi berbasis bukti di Indonesia. Dalam artikel “Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya” dari Kementerian Kesehatan RI, disebutkan bahwa kelor berpotensi naik kelas dari sekadar komoditas pangan menjadi infrastruktur biologis apabila didukung standardisasi, keamanan, dan evaluasi ilmiah yang kuat.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa kelor tidak cukup hanya dipromosikan sebagai tanaman “superfood”, tetapi perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem intervensi kesehatan yang terukur. Dengan pendekatan berbasis bukti, kelor dapat dimasukkan secara strategis dalam berbagai program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama untuk meningkatkan kepadatan mikronutrien dalam menu masyarakat.

Selain itu, kelor juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam edukasi layanan kesehatan primer. Puskesmas, Posyandu, dan tenaga kesehatan masyarakat dapat memberikan informasi mengenai cara konsumsi yang tepat, batasan penggunaan, serta manfaat yang mudah dipahami keluarga. Pendekatan ini dinilai penting agar pemanfaatan pangan lokal tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi benar-benar mendukung perbaikan kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan.

Kemenkes RI juga menilai kelor memiliki peluang dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional presisi. Pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan mikronutrien masyarakat serta mempertimbangkan kondisi biologis dan mikrobiota individu. Dengan dukungan data dan penelitian yang memadai, pangan lokal seperti kelor dapat menjadi bagian dari sistem kesehatan modern yang adaptif dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat Indonesia.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, titik temu antara sains dan kedaulatan pangan dapat diwujudkan melalui pengelolaan kelor secara ilmiah dan bertanggung jawab. Standardisasi produk, pengujian dampak kesehatan, serta integrasi hasil penelitian ke dalam pedoman menu dan edukasi digital dinilai akan membuat kelor tidak lagi sekadar label “superfood”. Sebaliknya, kelor dapat menjadi bagian dari sistem kesehatan yang bekerja, memberi manfaat terukur, dan terus berkembang melalui pembelajaran berbasis data. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....