Kusta Bukan Penyakit Kutukan, Begini Penjelasannya

  • 27 Feb 2026 07:32 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Penyakit ini masih ditakuti masyarakat bahkan dianggap sebagai penyakit kutukan. Faktanya, penyakit ini bisa disembuhkan melalui terapi antibiotik.

Puskesmas Nunukan melaporkan satu kasus baru penyakit kusta pada awal tahun ini. Kasus teridentifikasi setelah pasien mengalami gejala kusta, seperti ruam-ruam dan bercak putih terasa gatal.

Dilansir Center for Tropical Medicine Universitas Gadjah Mada (UGM), mitos kusta sebagai kutukan muncul lantaran masih ada yang mengaitkan penyakit tersebut dengan darah sehingga penderita dikucilkan dari masyarakat. Kusta atau lepra sudah dikenal hampir 2.000 tahun sebelum masehi dan termasuk ke dalam penyakit tropis terabaikan atau neglected tropical diseases (NTD), penyakit menular yang umum terjadi di wilayah tropis dan subtropic, terutama menyerang masyarakat dengan akses sanitasi dan kesehatan terbatas.

Dari kacamata sains, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang penyerang berbagai bagian tubuh seperti saraf, kulit, dan mukosa saluran pernafasan atas. Bakteri penyebab kusta dapat ditularkan melalui droplet atau percikan cairan dari hidung dan mulut saat kontak langsung terus menerus dalam kurun waktu lama dengan pasien.

Bakteri Mycobacterium leprae mengalami perkembangbiakan selama dua sampai dengan tiga minggu dan masa inkubasi penyakit ini rata-rata lima tahun sehingga gejala tidak langsung muncul jika seseorang terpapar oleh bakteri ini. Gejala dapat muncul dalam satu tahun bahkan setelah lima tahun lebih.

Kusta dikategorikan menjadi dua yaitu kusta kering atau pausi basiler (PB) dan kusta basah atau multi basiler (MB). Kusta PB ditandai dengan adanya bercak putih seperti panu dan mati rasa, permukaan bercak kering dan kasar, tidak tumbuh rambut, bercak pada kulit antara satu sampai lima lokasi.

Ada kerusakan saraf tepi pada satu lokasi bercak, namun hasil pemeriksaan bakteriologis negatif. Di sisi lain, Kusta PB tidak menular.

Sementara itu, kusta MB ditandai dengan bercak putih kemerahan yang tersebar di seluruh kulit dari tubuh penderita, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak lebih dari lima lokasi, terdapat banyak kerusakan saraf tepi, dan hasil pemeriksaan bakteriologi positif. Kusta jenis MB sangat mudah menular.

Kusta dapat diobati dan jika ditangani lebih cepat maka dapat mencegah kecacatan. Di Indonesia, pengobatan pasien kusta dengan multidrug therapy (MDT) yaitu beberapa macam antibiotik.

Kusta yang tidak ditangani atau tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf tepi, anggota gerak, dan mata. Kerusakan permanen atau kondisi cacat yang dialami oleh pasien kusta memicu stigma masyarakat pada pasien kusta baru maupun pasien kusta yang sudah sembuh.

Sumber: centertropmed-ugm.org

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....