Mengulik Sejarah Veteriner di Indonesia
- 07 Jan 2026 13:23 WIB
- Nunukan
KBRN, Nunukan: Veteriner memiliki sejarah yang panjang di Republik Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, veterīnārius, yang merupakan nama yang ditujukan kepada orang yang mengurusi hewan pekerja atau veterīnae.
Seiring berjalannya waktu, kata tersebut diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi veteriner, kata sifat yang artinya penyakit hewan (kedokteran hewan). Di republik ini, dokter hewan yang pertama kali bertugas pada masa pemerintah Kolonial Belanda bernama R.A Coppicters.
Pada tahun 1820, Warga Belanda itu didatangkan khusus sebagai dokter hewan sekaligus militer yang bertugas di satuan Kaveleri, pasukan berkuda tentara Belanda. Kala itu, kuda menjadi kendaraan bertempur.
Peran senteral kuda sebagai kekuatan militer pun menuntut kuda memiliki kesehatan prima. Seiring berjalannya waktu, penugasan dokter hewan tak sebatas urusan militer.
Di tahun 1875, muncul kasus penyakit sampar sapi (Rinderpest). Kemudian, di tahun 1884 dilaporkan kemunculan penyakit ngorok pada kerbau (Septichemia epizootika) dan radang limpha (antraks).
Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Nunukan Meningkat
Tak hanya mematikan hewan ternak, penyakit tersebut juga menyebabkan kematian pada manusia. Di tahun 1887, dilaporkan munculnya penyakit mulut dan kuku (Apthae epizootika), hingga akhirnya, Pemerintah Belanda mendirikan sekolah dokter hewan di Surabaya tahun 1861.
Dokter Hewan Pribumi
Pada Tahun 1892, seorang anggota parlemen Belanda bernama Kuneman, mengusulkan agar pemerintah mencetak dokter hewan dari kalangan pribumi. Sayangnya, usulan itu ditolak oleh Pemerintah Belanda.
Barulah pada 1906, Sekolah dokter hewan pribumi (Inlandsche Veertzen School) didirikan di Bogor, Jawa Barat. Salah satu lulusan pertama sekolah ini bernama Dokter Johannes Alexandre Kaligis (JA Kaligis).
Pria kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara itu lulus pada tahun 1910. Tahun kelulusan sang dokter hewan pribumi ini pun dicanangkan oleh organisasi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan pemerintah sebagai tahun pertama kelahiran dokter hewan Indonesia.
Pada era orde baru, peranan dokter hewan difokuskan pada upaya peningkatan produksi peternakan. Di era reformasi, profesi Kedokteran Hewan berkembang pesat seiring dengan semakin kompleksnya permasalahan kesehatan sekaligus bermunculannya kampus yang menyediakan Jurusan Kedokteran Hewan.
Seiring berjalannya waktu, dokter hewan tak hanya dituntut menangani masalah kesehatan ternak saja. Merujuk Badan Kesehatan Hewan Dunia atau OIE, ada 33 ruang kerja dokter hewan yang telah disepakati oleh 110 negara, termasuk Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah keamanan pangan, pengawasan pengan, peternakan, kesejahteraan hewan, perikanan, zoonosis, epidemiology, pengendalian penyakit, karantina, hingga pelayanan di klinik hewan. (TA)
Sumber: Buku Mengenal Lebih Dekat Profesi Dokter Hewan; p2k.stekom.ac.id
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....