Mengenal Fenomena Blood Moon dan Alasan Ilmiah di Balik Warna Merah
- 31 Agt 2026 13:45 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan — Blood Moon merupakan fenomena astronomi yang terjadi ketika bayangan bumi melintasi permukaan bulan purnama, seolah mengubah warna bulan menjadi merah tua berkarat seperti darah. Warna merah tersebut muncul akibat efek pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.
Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika, Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari melalui atmosfer bumi yang menyaring cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke bulan.
"Alih-alih menjadi gelap total saat Gerhana Bulan Total (GBT), warna bulan purnama justru berubah menjadi memerah," jelas Thomas.
"Hanya cahaya merah yang mencapai bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer bumi," tambahnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) sekaligus ahli astronomi, Prof. Taufiq Hidayat, Ph.D., menjelaskan bahwa blood moon merupakan istilah populer untuk gerhana bulan total saat bulan berada sepenuhnya dalam bayangan bumi dan cahaya matahari tidak dapat mengenai permukaannya secara langsung.
“Gerhana bulan selalu terjadi saat purnama, ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Bumi berada di tengah sehingga cahaya Matahari terhalang mencapai bulan. Namun, sebagian cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi dibelokkan, dan yang sampai ke bulan adalah pancaran cahaya berwarna merah. Itulah yang membuat bulan terlihat merah darah,” jelasnya.
| Baca juga: Kenapa Indonesia Cuma Punya Dua Musim? |
Ia menambahkan bahwa intensitas warna merah pada gerhana bulan dapat berbeda-beda, dengan faktor utama yang dipengaruhi oleh kondisi atmosfer bumi.
“Jika atmosfer sedang banyak debu atau polutan, warna merahnya bisa terlihat lebih pekat. Jadi, selain konfigurasi posisi benda langit, kondisi atmosfer bumi juga berperan sangat penting,” ujarnya.
Menurut Prof. Taufiq, meski gerhana bulan terjadi secara berulang, durasi dan waktu kejadiannya selalu berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh bentuk orbit bulan dan bumi yang elips, sehingga konfigurasi kesegarisan matahari–bumi–bulan tidak selalu persis sama.
Sumber: brin.go.id dan itb.ac.id
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....