Mengenal Platipus: Mamalia Bertelur Unik Asal Australia yang Sempat Dikira Hoax

  • 31 Jul 2026 12:36 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Tahukah Anda, ada satu hewan unik di dunia yang sempat membuat para ilmuwan kebingungan? Hewan tersebut adalah platipus (platypus), salah satu mamalia paling misterius yang berasal dari Australia.

Platipus merupakan mamalia yang berkembang biak dengan cara bertelur (monotremata). Saat ini, platipus menjadi satu dari hanya lima spesies monotremata yang masih tersisa di bumi. Wujudnya sangat unik karena menyerupai gabungan antara paruh bebek, ekor berang-berang, dan kaki berselaput.

Saking uniknya, keberadaan platipus bahkan sempat dianggap sebagai berita bohong (hoax). Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1798, para ilmuwan Inggris sempat mengira hewan ini merupakan hasil rekayasa buatan manusia yang menggabungkan bagian tubuh dari berbagai jenis hewan.

Selain bentuk fisiknya yang tidak biasa, platipus juga memiliki adaptasi tubuh yang luar biasa. Bulu mereka sangat tebal karena terdiri dari dua lapisan yang berfungsi mengisolasi suhu tubuh dan menahan air.

Lapisan bulu ini memerangkap udara di dekat kulit sehingga menjaga platipus tetap terapung dan kering saat berada di dalam air. Hewan ini dikenal sangat tangguh di perairan.

Platipus dapat menghabiskan waktu hingga 12 jam setiap harinya di dalam air untuk mencari makan. Uniknya lagi, penelitian modern menemukan bahwa tubuh platipus dapat memancarkan pendaran cahaya (biofluorescent) berwarna biru-hijau saat terpapar sinar ultraviolet (UV).

Tak hanya itu, di balik perawakannya yang menggemaskan, platipus jantan ternyata memiliki taji beracun di kaki belakangnya. Para ilmuwan menduga taji ini digunakan oleh platipus jantan saat bertarung memperebutkan wilayah kekuasaan pada musim kawin.

Platipus merupakan hewan endemik Australia bagian timur, termasuk Tasmania, dan sangat bergantung pada ekosistem air tawar yang sehat untuk bertahan hidup. Habitat utama mereka mencakup anak sungai, sungai, dan billabong (Danau Oxbow). Namun saat ini, keberadaan mereka kian terancam akibat pencemaran lingkungan, pembukaan lahan, serta dampak perubahan iklim.

Sumber: WWF

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....