Siap-Siap! Puncak Hujan Meteor Perseid 2026 Dihiasi hingga 100 'Bintang Jatuh' per Jam

  • 30 Jul 2026 14:37 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Hujan meteor Perseid kembali menyapa pencinta fenomena astronomi. Fenomena langit spektakuler ini aktif sejak pertengahan Juli hingga Agustus 2026, dan diperkirakan mencapai puncaknya pada 13 Agustus 2026.

Pada puncaknya, hujan meteor Perseid dapat menampilkan lebih dari 100 meteor per jam, lengkap dengan kilatan terang dan bola api (fireballs). Hal ini menjadikannya salah satu fenomena astronomi terbaik di tahun ini.

Istimewanya, puncak Perseid tahun ini bertepatan dengan fase Bulan Baru. Kondisi langit yang gelap tanpa gangguan cahaya bulan membuat masyarakat berpeluang besar menyaksikan aktivitas meteor yang sangat berlimpah, selama cuaca cerah.

Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan terbaik, masyarakat disarankan berada di lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan. Pakar Ilmu Planet dan Meteorit, Dr. Ashley King, menyarankan agar masyarakat memilih area yang lapang dan gelap.

"Semakin gelap langit, semakin besar peluang Anda untuk melihat meteor yang redup. Anda bisa pergi ke wilayah pesisir atau berdiri di atas perbukitan," ujarnya.

Nama Perseid sendiri diambil karena meteor-meteor tersebut tampak memancar dari konstelasi Perseus. Menariknya, selama periode ini, hujan meteor Delta Aquariids juga sedang aktif.

Para ilmuwan menduga komet 96P/Machholz merupakan sumber dari Delta Aquariids, yang paling baik diamati dari belahan bumi selatan.

Bukan Bintang Jatuh yang Sebenarnya

Meski masyarakat sering sebut fenomena ini sebagai 'bintang jatuh', faktanya kilatan cahaya terang di langit tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan bintang. Fenomena yang sering dijadikan simbol harapan ini sebenarnya adalah partikel debu berukuran sangat kecil—sisa-sisa pembentukan tata surya—yang menguap saat menembus atmosfer Bumi.

Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur puing-puing kecil yang ditinggalkan oleh komet dan asteroid. Puncak hujan meteor terjadi saat Bumi melewati bagian terpadat dari jalur puing-puing tersebut.

Hampir seluruh meteor merupakan partikel debu mikroskopis berukuran sebutir pasir yang melaju dengan kecepatan puluhan kilometer per detik di ruang hampa, lalu terbakar dan menciptakan pijar indah saat bergesekan dengan atmosfer Bumi.

Sumber: Natural History Museum (nhm.ac.uk)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....