Merawat Kemanusiaan lewat Bait

  • 28 Jul 2026 13:36 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Di tengah gempuran modernitas dan dinamika kehidupan yang serba cepat, dunia kesusastraan Indonesia kembali diperkaya oleh sebuah karya reflektif. Buku kumpulan puisi berjudul "Yang Mendekap Kasih" karya Karsono H. Saputra hadir sebagai oase, menawarkan perenungan mendalam tentang esensi cinta, ketulusan, dan kepekaan sosial yang kerap terabaikan dalam kesibukan sehari-hari.

Sebagai seorang akademisi, filolog, dan sastrawan yang lekat dengan nuansa budaya Nusantara, Karsono melalui buku terbitan Wedatama Widya Sastra ini tidak sekadar merangkai kata-kata indah. Ia menggunakan medium puisi sebagai jembatan nurani untuk menyapa pembaca agar kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.

Jantung Bahasa: Kehangatan di Tengah Dinginnya Zaman

Buku setebal puluhan halaman ini memuat berbagai sajian sajak yang menyoroti relasi antarmanusia, hubungan vertikal dengan sang Pencipta, serta kedekatan dengan alam semesta. Judul Yang Mendekap Kasih sendiri menyiratkan sebuah metafora yang kuat: tentang bagaimana kasih sayang tidak boleh hanya menjadi wacana atau angan-angan, melainkan harus didekap, dirawat, dan diinternalisasikan dalam tindakan nyata.

Dalam pengamatan gaya kepenulisannya, Karsono konsisten menggunakan diksi yang membumi namun kaya makna. Baris-baris puisinya mengalir jernih, menghindari kerumitan struktur yang berlebihan, sehingga pesannya mampu menembus berbagai lapisan pembaca—baik penikmat sastra serius maupun pembaca awam.

"Kasih bukan sekadar kata yang singgah di bibir, melainkan dekap hangat yang mengusir dinginnya keterasingan dunia." — (Refleksi tematik dari Yang Mendekap Kasih)

Refleksi Sosial dan Humanisme Nusantara

Sebagai figur yang juga mendalami dunia naskah kuno dan tradisi sastra Jawa, sentuhan kearifan lokal (local wisdom) kerap menyelinap secara implisit dalam estetika puitik Karsono. Ia memandang bahwa krisis yang melanda manusia modern hari ini bukanlah krisis material, melainkan krisis kasih dan keterasingan batin (alienation).

Melalui Yang Mendekap Kasih, sang penulis seolah bertindak sebagai jurnalis jiwa—merekam kegelisahan-kegelisahan kecil manusia urban, kerinduan akan kehangatan keluarga, hingga pentingnya menjaga kepekaan empati di tengah dunia yang kian individualistis. Setiap bait dirancang untuk memperlambat tempo pembaca, memaksa mereka berhenti sejenak dan merenungkan kembali arti kehadiran orang-orang terkasih di sekitar mereka.

Menyalakan Lentera Literasi Puisi

Kehadiran buku ini menambah deretan panjang kontribusi produktif Karsono H. Saputra di kancah sastra Indonesia setelah karya-karyanya yang lain seperti Sajak-Sajak Bulan, Melati untuk Bunda, hingga kajian filologinya.

Bagi dunia pendidikan dan literasi, Yang Mendekap Kasih layak dijadikan bahan bacaan alternatif penunjang karakter. Buku ini mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang bising oleh disinformasi dan konflik, sastra—khususnya puisi—masih memiliki daya penyembuh (healing power) yang efektif melalui kekuatan rasa.

Sebuah karya yang patut disimak bagi siapa saja yang ingin kembali menemukan makna ketulusan di tengah gelombang zaman yang kian pragmatis. (Sumber: Buku kita.Com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....