Meretas Sunyi di Bawah Temaram

  • 28 Jul 2026 11:39 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Malam seringkali diasosiasikan dengan kesunyian, ruang hampa, atau pelarian dari riuhnya siang hari. Namun, bagi sastrawan terkemuka tanah air yang kerap dijuluki Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS, malam adalah ruang dialog yang jujur, intim, sekaligus sakral. Melalui buku kumpulan sajaknya yang bertajuk "Salamku Pada Malam" (terbit pertama kali tahun 2006 oleh Bukupop), Isbedy kembali menegaskan posisinya sebagai penyair yang tekun merawat nurani sunyi manusia urban dan pencari kebenaran eksistensial.

Sebagai sebuah karya sastra, buku ini tidak sekadar merangkai kata-kata indah tentang romatisme rembulan atau kelamnya kegelapan. Lebih dari itu, Salamku Pada Malam merefleksikan sebuah reportase batin: catatan perjalanan spiritual, dialog transendental, serta gugatan atas dinamika relasi manusia dengan pencipta, sesama, dan waktu.

Membaca "Wartawan" di Balik Larik-Larik Puisi

Isbedy bukanlah sosok asing di dunia kewartawanan. Latar belakangnya sebagai jurnalis tampak kuat memengaruhi cara pandangnya dalam memotret realitas. Jika seorang wartawan investigasi memotret peristiwa sosial menggunakan kamera dan catatan lapangan, maka Isbedy membidik pergulatan batin menggunakan diksi yang tajam, minimalis, namun sarat makna.

Dalam Salamku Pada Malam, malam diposisikan sebagai "narasumber" utama. Di saat hiruk-pikuk siang mereda dan topeng-topeng sosial dilepas, penyair mengajak pembaca melakukan deep interview dengan diri sendiri. Apakah kita sudah benar-arah? Apakah cinta dan kesetiaan masih menyala di tengah lorong waktu yang kian senyap?

“...aku berguru pada malam, agar tahu jalan lengang. Dan kecemasan yang kau tanam, kupahami sebagai sepi abadi.”

Kutipan tersebut merangkum esensi utama dari buku ini: bahwa penderitaan, kecemasan, dan keterasingan bukanlah untuk diratapi, melainkan dipelajari sebagai bagian dari kurikulum kehidupan.

Anatomi Buku: Antara Cinta, Absurditas, dan Pasrah

Berdasarkan penelusuran terhadap lanskap karya-karya Isbedy, sajak-sajak dalam Salamku Pada Malam memuat beberapa pilar tematik yang menonjol:

  • Eksistensialisme dan Waktu: Waktu dipandang bukan sekadar angka di jam dinding, melainkan entitas yang terus mendesak hidup manusia. Penantian panjang, ketakutan, dan harapan dirajut dalam metafora visual yang kuat.
  • Relasi Insani dan Ketulusan: Isbedy banyak menyoroti kerapuhan hubungan antarmanusia—rumah yang pintunya terkunci, kenangan yang berdebu, hingga perpisahan yang tak terhindarkan. Namun, di balik itu selalu ada rekaman tentang upaya merawat cinta kasih.
  • Dimensi Religiusitas: Nuansa pencarian Tuhan kental terasa dalam guratan sajak-sajaknya. Malam menjadi jembatan sunyi bagi hamba untuk mengetuk pintu langit, merefleksikan kefanaan duniawi di hadapan Sang Khalik.

Relevansi di Tengah Zaman yang Bising

Dua dekade lebih sejak pertama kali diluncurkan ke ruang publik, pesan moral dalam Salamku Pada Malam justru semakin relevan di tengah masyarakat modern saat ini. Hari-hari kita disibukkan oleh kebisingan digital, informasi yang tiada henti, dan keterasingan di tengah keramaian (crowded loneliness).

Buku ini menawarkan sebuah "stasiun pemberhentian"—sebuah jeda bagi pembaca untuk merenung, menyapa malam, dan berdamai dengan diri sendiri. Isbedy mengingatkan kita bahwa kesunyian bukanlah ancaman, melainkan kawan seperjalanan yang jujur.

Bagi penikmat sastra maupun pembaca umum, Salamku Pada Malam karya Isbedy Stiawan ZS tetap menjadi sebuah monumen literer yang penting; sebuah karya jurnalistik kultural yang merekam denyut nadi kemanusiaan dari lubuk hati seorang penyair yang tak pernah lelah merawat kata. (Sumber: Buku kita.Com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....