Menyelami Labirin Hati dan Dilema Batin
- 27 Jul 2026 16:24 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Cinta sering kali diasosiasikan dengan kebahagiaan, senyum, dan debar jantung yang menyenangkan. Namun, bagaimana jika cinta justru menjelma menjadi sebuah beban emosional paling rumit ketika seseorang dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa perasaan tulusnya justru berpotensi melukai orang-orang tersayang?
Pertanyaan eksistensial inilah yang dikupas secara mendalam oleh Meistika Senichaksana, atau yang lebih dikenal luas sebagai Mezty Mez, melalui novel kedua larisnya yang bertajuk Sesaat di Keabadian yang diterbitkan oleh EnterMedia, 2015. Buku ini merupakan sekuel atau kelanjutan langsung dari novel debut suksesnya, Hai, Luka.
Babak Baru Segitiga Cinta: Rena, Dante, dan Alex
Melanjutkan kisah sebelumnya, novel setebal 130 halaman ini kembali mengajak para pembaca menyelami kompleksitas dinamika hubungan antara tiga tokoh utama: Rena, Dante, dan Alex.
Jika novel pertama berfokus pada proses pencarian dan penerimaan luka masa lalu, maka dalam Sesaat di Keabadian, ketiganya dibawa masuk ke dalam fase kehidupan yang lebih dewasa namun jauh lebih pelik.
Seseorang dari Masa Lalu: Ada figur yang begitu istimewa di hati Rena—sosok yang meski telah lama pergi, tetap tidak mampu terhapus oleh waktu dan ingatan.
Seseorang di Masa Depan: Di sisi lain, hadir figur tempat ia berlabuh dan menemukan kebahagiaan kini, seseorang yang sulit untuk ditinggalkan dalam setiap langkah babak kehidupan selanjutnya.
Konflik batin ini membuat Rena berada di persimpangan jalan emosional yang dilematis, mempertanyakan arti keikhlasan, kesetiaan, dan takdir pertemuan.
Ketika Takdir Cinta Menghadirkan Bentuk Patah Hati Tertinggi
| Baca juga: Sahkan Aku di Depan Penghulu |
Mezty Mez, yang namanya sempat melambung di dunia hiburan lewat grup vokal 7icons dan dunia seni peran, menuangkan kisah ini dengan pendekatan naratif yang jujur dan personal. Alih-alih menyajikan kisah romansa klise berbalut manis madu, ia menyoroti sisi kelam dari sebuah hubungan.
"Apakah kamu tahu takdir tentang cinta yang paling menyakitkan itu apa? Jawabannya adalah kamu tidak ingin orang-orang yang mencintaimu patah hati lalu terluka." - Kutipan Sesaat di Keabadian
Pesan inti yang diangkat oleh sang penulis lewat karyanya menegaskan bahwa penderitaan terberat dalam cinta bukanlah sekadar ditinggalkan atau tidak dicintai, melainkan saat kita menyadari bahwa keberadaan atau keputusan kita justru menjadi sumber kehancuran bagi hati orang lain yang telanjur tulus mencintai kita. Mezty secara blak-blakan menyampaikan bahwa apa yang dialami para karakternya jauh melampaui standar patah hati pada umumnya. (Sumber: Buku kita.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....