Masa Keemasan Bajak Laut: antara Kebebasan dan Hukuman Gantung
- 28 Mar 2026 07:09 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan-Di era modern ini, potret atau gambaran mengenai sosok bajak laut biasa kita lihat melalui film maupun siaran televisi yang kita tonton. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di zaman keemasan pembajakan?
Di dunia Barat, zaman keemasan pembajakan berlangsung kurang dari 50 tahun sejak 1680 hingga 1720an. Kala itu, eskalasi aktivitas bajak laut terjadi ketika ribuan kapal di Atlantik dan sekitarnya menjadi mangsa perampok laut.
Sosok bajak laut paling terkenal dalam sejarah juga berasal dari era ini, seperti Edward 'Blackbeard' Teach, Kapten William Kidd, 'Calico' Jack Rackham, Henry Morgan, dan banyak lagi. Karibia dan pantai timur Amerika Utara merupakan area utama yang mengalami peningkatan aktivitas bajak laut pada awal tahun 1700-an.
Kala itu, kapal-kapal yang membawa barang mahal sering dicegat, kemudian barang hasil curian dijual di pulau-pulau terdekat dan koloni-koloni Eropa. Beberapa bajak laut beroperasi lebih jauh, di lepas pantai Afrika Barat atau di Samudra Hindia, di mana pulau Madagaskar menjadi basis utama.
Tak hanya kapal kargo, kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan budak juga menjadi sasaran. Bajak laut biasanya menjual para budak untuk mendapatkan keuntungan.
Pembajakan menarik perhatian publik selama 'zaman keemasan'. Cara bajak laut diliput dalam berita pada saat itu telah membentuk banyak penggambaran bajak laut dalam sastra, film, dan TV yang kita kenal saat ini.
Buku Kapten Charles Johnson, A General History of the Robberies and Murders of the most notorious Pyrates, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1724, memberikan gambaran yang jelas tentang banyak bajak laut nyata dari sejarah yang kita kenal saat ini.
Misalnya, ketika menggambarkan Blackbeard, Johnson menulis bagaimana “janggutnya hitam, yang dibiarkan tumbuh sangat panjang; sedangkan lebarnya mencapai matanya; ia terbiasa memilinnya dengan pita, menjadi ekor kecil dan melilitkannya di sekitar telinganya.”
Kisah-kisah tersebut diklaim berdasarkan catatan persidangan, laporan surat kabar, dan wawancara dengan mantan bajak laut. Namun, Johnson tentu saja menambahkan atau melebih-lebihkan detail untuk membuat narasi lebih menarik.
Bagi kebanyakan orang kala itu, beralih profesi menjadi bajak laut adalah cara untuk menghasilkan uang. Awak kapal yang ditangkap mungkin bergabung dengan bajak laut untuk mencari keberuntungan.
Menjadi bajak laut adalah keputusan yang berisiko bahkan bisa berujung kematian. Namun, harga yang didapatkan lebih tinggi jika dibandingkan pekerjaan lainnya di laut.
Kehidupan sebagai bajak laut juga dapat menawarkan kebebasan dari disiplin keras kehidupan di Angkatan Laut atau kerja keras dengan upah rendah di kapal dagang. Mereka yang memasuki dunia bajak laut yang berbahaya biasanya hanya melakukannya untuk jangka waktu singkat.
Akhir Era Keemasan
Aktivitas bajak laut di Karibia, Amerika Utara, lepas pantai Afrika Barat, dan Samudra Hindia menyebabkan masalah besar bagi perdagangan. Mereka menjadi momok di laut lepas dan ancaman yang harus ditangani pemerintah.
Selama tahun 1720-an, bajak laut semakin diburu, mengakhiri 'zaman keemasan'. Kekuatan angkatan laut dikerahkan untuk mencegat kapal bajak laut dan membawa awak kapal ke pengadilan yang keras.
Amnesti atau pengampunan juga diberikan, memungkinkan bajak laut untuk melepaskan masa lalu kriminal mereka sebagai imbalan atas kebebasan dari penuntutan.
Bartholemwe Roberts, juga dikenal sebagai 'Black Bart', adalah salah satu bajak laut paling sukses di 'zaman keemasan', yang menangkap dan mencuri dari lebih dari 400 kapal selama kariernya. Namun, pada 10 Februari 1722, kapalnya dicegat oleh Kapten Chaloner Ogle dari Angkatan Laut Kerajaan.
Bartholemew Roberts tewas dalam pertempuran tersebut, dan banyak awak kapalnya diadili di Pengadilan Admiralty di Ghana. 52 orang dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung – jumlah terbesar orang yang dijatuhi hukuman mati dalam satu persidangan di pengadilan Admiralty.
Dari jumlah tersebut, 18 dinyatakan 'bersalah tingkat tertinggi'. Setelah eksekusi mereka, tubuh mereka dilumuri ter dan digantung di dalam sangkar tiang gantungan sebagai peringatan publik yang mengerikan.
Karena kehidupan bajak laut menjadi lebih berbahaya dan kurang menguntungkan, beberapa pindah ke bagian laut yang kurang diawasi. Banyak lainnya memutuskan untuk berhenti sama sekali, yang secara efektif mengakhiri 'zaman keemasan' pembajakan.
Sumber: https://www.rmg.co.uk
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....