Cinta yang Hilang

  • 27 Jan 2026 22:30 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Sastra seringkali menjadi cermin paling jernih untuk melihat sejarah yang buram. Melalui novelnya yang bertajuk Cinta yang Hilang, jurnalis sekaligus penulis Masriadi Sambo mengajak pembaca menyelami sisi humanis dari sebuah tragedi besar yang pernah melanda Tanah Rencong: Konflik Aceh. Buku ini bukan sekadar romansa picisan. Ia adalah sebuah rekaman sosial tentang bagaimana cinta dipaksa menyerah di hadapan moncong senjata dan tekanan situasi politik yang tidak menentu. Fokus utama dalam karya ini adalah penderitaan batin tokoh-tokohnya yang terjebak dalam pusaran konflik antara GAM dan Pemerintah RI. Masriadi Sambo, dengan latar belakangnya sebagai jurnalis kawakan, berhasil membangun atmosfer yang mencekam sekaligus mengharukan.

Beberapa poin krusial yang diangkat dalam buku ini meliputi:

  • Trauma Kolektif: Penulis menggambarkan betapa hilangnya rasa aman menjadi makanan sehari-hari masyarakat sipil.
  • Stigma dan Tuduhan: Bagaimana seseorang bisa kehilangan segalanya—termasuk orang tercinta—hanya karena label atau tuduhan yang tidak berdasar di tengah kecurigaan dua belah pihak.
  • Pencarian Tanpa Akhir: Tema "kehilangan" bukan hanya soal kematian, tapi tentang ketidakpastian nasib mereka yang hilang tanpa jejak (penghilangan paksa).

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada gaya penulisan Masriadi. Sebagai jurnalis, ia sangat piawai menyajikan detail lokasi dan suasana secara faktual, namun tetap mampu menyisipkan diksi-diksi emosional yang menyentuh sanubari.

"Cinta dalam buku yang di terbitkan oleh Prenada Media Group BP pada Agustus 2015 ini, adalah analogi dari kedamaian yang sempat tercerabut dari bumi Aceh. Kehilangan cinta berarti kehilangan harapan, namun perjuangan untuk menemukannya kembali adalah bentuk dari ketabahan."

Meski Aceh kini telah menikmati perdamaian (MoU Helsinki), buku Cinta yang Hilang tetap relevan sebagai pengingat akan mahalnya harga sebuah kedamaian. Karya ini berfungsi sebagai monumen literasi agar generasi mendatang tidak melupakan sejarah kelam yang pernah membentuk karakter dan ketangguhan masyarakat Aceh hari ini.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami konflik Aceh bukan dari angka statistik korban, melainkan dari kedalaman rasa dan air mata mereka yang bertahan hidup. (Sumber: Buku kita.com).

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....