IABI: Banjir Nepal Bukti Nyata Perubahan Iklim Memicu Bencana Beruntun
- 30 Agt 2026 10:31 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan – Fenomena banjir dan tanah longsor dahsyat yang menerjang Nepal menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard). Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono.
Dr. Daryono menjelaskan, rangkaian bencana ini bermula di wilayah Pegunungan Himalaya dengan elevasi tinggi. Di wilayah tersebut, akumulasi pemanasan suhu atmosfer mempercepat proses dinamika kriosfer secara ekstrem. Lelehan es yang meningkat pesat menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi di batas antara es dan batuan penopang.
"Air lelehan tersebut mengurangi daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas struktural massa es raksasa yang berada di lereng-lereng terjal pegunungan," ujarnya.
Ketidakstabilan tersebut mencapai titik kritis saat massa es padat dan batuan berukuran masif runtuh secara mendadak (glacier collapse). Akibatnya, terjadi proses jatuh bebas dari ketinggian lebih dari satu kilometer langsung menuju dasar lembah.
"Benturan mekanis berkecepatan tinggi ini melepaskan energi kinetik sangat besar, sebanding dengan guncangan gempa tektonik magnitudo 5,0 hingga 5,2. Benturan tersebut seketika menghancurkan material es menjadi pecahan mikroskopis, lumpur, dan lelehan air akibat konversi suhu dari gesekan mendadak," jelasnya.
Baca Juga: Korban Tewas Banjir Nepal Capai 623 Orang, 1.100 Lebih Masih Hilang
Runtuhan es dan material longsor kemudian menyumbat alur sungai utama di lembah bawah hingga membentuk bendungan alami (landslide and ice dam). Penyumbatan ini menahan aliran sungai dan menjebak pasokan air lelehan baru dari hulu.
Dalam hitungan jam, air terakumulasi menjadi danau raksasa sementara yang menciptakan tekanan hidrostatik ekstrem terhadap dinding penahan alami tersebut.
"Ketika struktur penahan yang tidak stabil itu mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol seketika. Pelepasan volume air yang sangat besar dalam waktu singkat memicu gelombang banjir bandang (outburst flood) berbentuk dinding air pekat bercampur lumpur, batuan raksasa, dan debris padat," terangnya.
Gelombang tinggi ini bergerak ke arah hilir dengan kecepatan sangat tinggi, menyebabkan lonjakan muka air sungai secara drastis dalam hitungan menit. Daya hancur aliran material (debris flow) yang memiliki massa jenis jauh lebih berat dari air biasa ini dengan mudah merobohkan benteng bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bersih permukiman warga.
Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan hilir membuat proses evakuasi tidak sempat dilakukan. Hal inilah yang memicu timbulnya korban jiwa dan kerusakan lingkungan berskala masif.
"Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dalam rentang waktu yang sangat singkat," tegasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....