Menatap Perang lewat Kepolosan Dua Belas Pasang Mata
- 29 Jul 2026 08:39 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Nijushi No Hitomi (Dua Belas Pasang Mata) menceritakan kisah Bu Guru Oishi, seorang guru muda yang ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana, ia belajar memahami kehidupan yang sederhana serta kasih sayang tulus yang ditunjukkan oleh murid-muridnya.
Namun seiring berjalannya waktu, tahun-tahun yang indah bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang memilukan. Perang memorakporandakan semuanya, membuat anak-anak beserta sang guru mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Kedua belas anak dengan beragam kepribadian setia menemani keseharian Bu Guru Oishi:
- Kotsuru Kabe, gadis banyak bicara putri seorang pengantar barang;
- Masuno Kagama, putri pemilik restoran yang berbakat bermusik;
- Kotoe Katagiri, putri seorang nelayan;
- Matsue Kawamoto (Matchan), putri seorang tukang kayu;
- Fujiko Kinoshita, anak seorang bangsawan;
- Misako Nishiguchi (Miisan), anak dari keluarga kaya;
- Sanae Yamaishi, anak pemalu namun berotak cerdas;
- Nita Aizawa, anak lelaki bersuara lantang nan cerewet;
- Isokichi Okada (Sonki), putra penjual tahu;
- Tadashi Morioka (Tanko), putra ketua nelayan;
- Takeichi Takeshita, anak cerdas seorang pedagang beras; serta
- Kichiji Tokuda (Kitchin), anak lelaki yang pendiam.
Melalui Dua Belas Pasang Mata, Sakae Tsuboi menyajikan karya yang sangat menyentuh dan meyakinkan. Meskipun berlatar di masa peperangan, sang penulis nyaris tidak menyinggung pertempuran secara langsung. Justru, penulis ingin memperlihatkan dampak kekejaman serta ketidakmanusiawian perang modern melalui sudut pandang perkembangan kedua belas anak yang polos ini.
Hal tersebut makin dikuatkan oleh karakter Bu Guru Oishi yang pemberani, tegas, berwibawa, dan senantiasa teguh memegang prinsip. Salah satu bagian paling menarik adalah proses Bu Guru Oishi dalam mengambil hati para siswa dan warga desa dengan tetap menjadi diri sendiri.
Dari yang sebelumnya dicap buruk dan dianggap "sembrono" hanya karena memakai kemeja putih serta jas hitam seperti laki-laki, ia akhirnya berhasil menjadi primadona dan kesayangan warga desa.
Buku ini sangat cocok bagi Anda yang ingin menyelami kehidupan masyarakat di zaman perang. Sebuah kisah sentimental yang membuktikan bahwa di tengah keterbatasan dan kelamnya masa lalu, manusia selalu bisa menemukan secercah kebahagiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....