"If You Feel Not Okay, It’s Okay" Menjadi Kompas Kesehatan Mental Baru

  • 31 Mar 2026 09:43 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut produktivitas tanpa henti, sebuah karya literatur hadir sebagai pengingat lembut untuk berhenti sejenak. Eka Purnama Mustikaningtyas, melalui buku terbarunya berjudul If You Feel Not Okay, It’s Okay, mencoba merangkul para pembaca yang sering kali merasa terasing oleh ekspektasi sosial dan kegagalan pribadi.

Diterbitkan oleh Selaksa Media pada 2 Februari 2026, buku ini bukan sekadar motivasi kosong, melainkan sebuah panduan reflektif yang merayakan kemanusiaan dalam bentuknya yang paling rapuh. Buku ini juga mangajak pembaca untuk terus berjalan menuju titik kebahagian hingga menemukan bentuk asli diri mu.

Dirimu yang sempat hilang itu, genggamlah kembali.

Memanusiakan Kesedihan

Premis utama yang diusung Eka dalam buku ini adalah validasi diri. Penulis menekankan bahwa merasa "tidak baik-baik saja" bukanlah sebuah kecacatan karakter atau tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah respons alami tubuh dan jiwa terhadap beban hidup yang kian kompleks.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian esensial yang menyoroti:

  • Penerimaan Diri (Self-Acceptance): Bagaimana berdamai dengan kekurangan dan kegagalan masa lalu.

  • Batasan Emosional: Pentingnya menarik garis tegas antara empati kepada orang lain dan perlindungan terhadap energi diri sendiri.

  • Seni Melepaskan: Mengikhlaskan hal-hal yang berada di luar kendali manusia.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada gaya bahasanya yang tidak menggurui. Eka Purnama Mustikaningtyas menulis layaknya seorang sahabat yang sedang duduk bersama pembaca di sore hari. Pemilihan diksi yang puitis namun tetap membumi membuat konsep psikologis yang berat terasa lebih ringan untuk dicerna oleh masyarakat umum.

Relevansi di Era 2026

"Buku ini adalah surat cinta bagi mereka yang merasa tertinggal, mereka yang sedang patah, dan mereka yang lupa cara bernapas dengan tenang di tengah badai." Kehadiran buku ini di awal tahun 2026 dianggap sangat relevan. Di era di mana batas antara ruang privasi dan publik makin kabur akibat teknologi, tekanan untuk selalu terlihat bahagia dan sukses menjadi beban mental yang nyata. If You Feel Not Okay, It’s Okay hadir sebagai penawar racun bagi fenomena toxic positivity.

Melalui Selaksa Media, Eka berhasil mengemas pesan bahwa penyembuhan (healing) bukanlah sebuah perlombaan. Penyembuhan adalah sebuah perjalanan personal yang tidak memiliki tenggat waktu. Bagi siapa pun yang sedang merasa terjebak dalam labirin emosi, buku ini menawarkan jalan keluar namun bukan dengan cara berlari, melainkan dengan cara berjalan perlahan sambil mengenali setiap luka yang ada.

If You Feel Not Okay, It’s Okay adalah pengingat bahwa di balik kata "tidak apa-apa untuk merasa sedih," terdapat kekuatan besar untuk bangkit kembali dengan versi diri yang lebih tangguh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....