Mengulas 'Peluk Ibu sebelum Tiada' Karya catatan_ariesta

  • 30 Mar 2026 23:25 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID – Nunukan: Penyesalan sering kali datang saat waktu tak lagi berpihak. Pesan mendalam inilah yang menjadi napas utama dalam buku terbaru bertajuk Peluk Ibu Sebelum Tiada: Sebuah Perjalanan Pulang Antara Ibu dan Anak karya penulis yang dikenal dengan nama pena catatan_ariesta. Diterbitkan oleh Penerbit Buku Abdi pada 9 Maret 2026, karya ini hadir sebagai pengingat keras sekaligus lembut di tengah hiruk pikuk dunia modern.

Buku ini bukan sekadar kumpulan narasi fiksi, melainkan sebuah refleksi emosional tentang kerinduan, rekonsiliasi, dan kesempatan kedua yang sering kali kita abaikan. Penulisnya ingin pembaca merasakan napas yang berbeda tapi saling bertaut—suara seorang ibu yang sering memendam segalanya demi buah hatinya, dan suara seorang anak yang perlahan memahami bahwa cinta ibu tidak pernah tampak sederhana.

Perjalanan Pulang Secara Fisik dan Batin

Narasi dalam buku ini berfokus pada metafora "pulang". Bagi catatan_ariesta, pulang bukan hanya soal menempuh jarak menuju rumah masa kecil, melainkan proses meruntuhkan ego seorang anak untuk kembali bersimpuh di hadapan ibunya.

Penulis dengan apik menggambarkan dinamika hubungan ibu dan anak yang kerap mengalami pasang surut akibat perbedaan generasi, kesalahpahaman, hingga jarak yang tercipta karena ambisi pribadi. Melalui gaya bahasa yang puitis namun jujur, pembaca diajak untuk melihat sosok ibu bukan sebagai pahlawan tanpa celah, melainkan sebagai manusia biasa yang juga memiliki luka dan harapan.

Menghadapi 'Ketidadaan' Sebelum Waktunya

Salah satu bab yang paling menggugah adalah saat penulis membahas tentang "kematian sebelum waktunya"—sebuah kondisi di mana secara fisik ibu masih ada, namun hubungan emosional telah mati.

"Jangan menunggu nisan tertanam untuk menyadari bahwa hangat dekapnya adalah rumah yang sebenarnya," tulis catatan_ariesta dalam sebuah penggalan paragraf yang emosional.

Buku ini memberikan panduan emosional bagi pembaca untuk:

  • Melakukan Rekonsiliasi: Cara memulai percakapan sulit dengan orang tua setelah bertahun-tahun terjadi kerenggangan.

  • Menghargai Kehadiran: Menemukan makna dalam momen-momen kecil, seperti makan bersama atau sekadar mendengarkan cerita lama yang diulang-ulang.

  • Mengelola Penyesalan: Bagaimana berdamai dengan masa lalu agar bisa memberikan kasih sayang terbaik di masa sekarang.

Sebuah "Alarm" bagi Generasi Sibuk

Diterbitkan di era di mana koneksi digital sering kali menggantikan kehadiran fisik, Peluk Ibu Sebelum Tiada berfungsi sebagai "alarm" bagi para anak muda dan dewasa yang terlalu sibuk mengejar karier hingga lupa bahwa orang tua mereka sedang menua dalam kesunyian.

Penerbit Buku Abdi menyebutkan bahwa sejak peluncurannya, buku ini telah memicu gerakan #PelukIbu di media sosial, di mana para pembaca membagikan momen rekonsiliasi mereka dengan orang tua masing-masing. Ini membuktikan bahwa karya catatan_ariesta telah menyentuh titik sensitif dalam kesadaran kolektif masyarakat saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....