Mengenal Motivasi Penghobi Burung Kicau dari Nunukan

  • 27 Apr 2025 19:52 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Dunia burung kicau di Kabupaten Nunukan terus menunjukkan geliatnya. Meskipun tak semasif di Pulau Jawa atau Sulawesi, komunitas pecinta burung di wilayah perbatasan ini tetap aktif mengikuti berbagai perlombaan, membawa semangat dan kecintaan pada kicauan merdu burung peliharaan mereka.

Salah satu penghobi yang dikenal di kalangan komunitas adalah Mas Rezky, pecinta burung kicau yang sudah lama aktif dalam berbagai event. Dalam perbincangan santai, ia mengatakan perkembangan dunia lomba burung di Nunukan yang menurutnya cukup baik, meski masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi hadiah.

"Sebenarnya lomba burung di Nunukan itu sudah bagus, tapi mungkin karena faktor hadiah yang belum terlalu besar di sini, jadi ya itu aja sih kendalanya," ujarnya, Minggu (28/4/2025).

Meski demikian, ia menegaskan kualitas burung dari Nunukan patut diperhitungkan. Banyak burung berkualitas tinggi berasal dari daerah ini karena kebanyakan pemiliknya memelihara dengan serius, bahkan berorientasi pada penjualan.

"Kalau mau cari burung bagus, justru dari Nunukan. Karena rata-rata orang sini pelihara burung buat dijual," tambahnya.

Dalam lomba-lomba lokal, jenis murai batu menjadi bintang utama. Bahkan dalam satu kelas bisa diikuti lebih dari 20 peserta. Selain itu, burung seperti kacer, cucak ijo, kolibri ninja (konin), dan srindit juga ikut meramaikan kompetisi.

Salah satu burung andalan Mas Rezky adalah seekor cucak ijo bernama “Grandong”. Burung ini dikenal punya performa stabil dan sudah beberapa kali meraih juara.

"Alhamdulillah selama saya punya cucak ijo, Grandong ini selalu jadi burung terbaik di lomba. Dalam penilaian lomba burung itu yang utama dinilai adalah gaya, irama, dan lagu. Kalau ketiganya ada, sudah pasti masuk penilaian," jelas Rezky.

Namun, penilaian tak hanya soal suara. Perilaku burung juga sangat menentukan. Jika burung terlalu agresif hingga menyentuh lantai sangkar atau menampar dinding, bisa langsung didiskualifikasi.

"Sebagus apapun burung, kalau jatuh dan injak lantai, tetap didiskualifikasi. Apalagi kalau merujik atau menampar dinding sangkar," tambahnya.

Dalam lomba terakhir di Sebatik, Mas Rezky membawa dua burung: Grandong dan seekor murai. Ia menyebut suasana lomba sangat ramai, namun dirinya memilih fokus hanya pada dua kelas.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa motivasi utama penghobi burung bukanlah hadiah, melainkan kebanggaan atas prestasi peliharaan mereka. Kemenangan di arena lomba justru bisa membuka peluang lain, seperti peningkatan nilai jual burung.

"Kalau di Nunukan, kadang orang ikut lomba bukan karena hadiahnya. Karena memang hobi. Masalah hadiah itu nomor sekian, yang penting itu prestasi burungnya," jelasnya.

Dengan prestasi yang diraih dan promosi lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok, burung-burung unggulan dari Nunukan bisa menarik perhatian luas.

"Kalau burung kita sudah sering menang, kita posting ke media sosial. Nah, dari situ banyak yang nanya-nanya soal harga. Kalau cocok, bisa langsung dijual," ujarnya.

Di balik kicauan merdu yang menghiasi arena lomba, ada dedikasi, ketelatenan, dan semangat dari para penghobi seperti Mas Rezky. Nunukan mungkin jauh dari hingar bingar pusat lomba nasional, tapi semangat para kicau mania di sini tak kalah nyaring dari suara burung juara. (MM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....