Ulasan Buku “Susu dan Telur” Karya Kawakami Mieko
- 31 Agt 2026 16:14 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Buku bergenre psikologi fiksi dan feminisme ini menceritakan tentang kehidupan tiga perempuan lintas generasi bernama Makiko, Natsuko dan Midoriko. Masing-masing dari ketiga tokoh ini memiliki permasalahan hidup yang berbeda, namun justru itulah yang membuat pembaca betah membalik halaman demi halaman novel “Susu dan Telur”.
Makiko adalah kakak perempuan Natsuko yang melakukan perjalanan ke Tokyo bersama anak perempuannya, Midoriko. Perjalanan kali ini bukan sekedar untuk liburan atau pergi mengunjungi adiknya. Akan tetapi Makiko berencana untuk melakukan operasi implan payudara di Tokyo demi mendukung pekerjaannya sebagai hostess.
Tak seperti anak remaja seusianya yang banyak bicara, Midoriko memilih untuk berhenti berbicara semenjak ia menentang rencana sang ibu untuk melakukan operasi payudara. Midoriko menyalahkan dirinya sendiri, ia merasa telah menjadi beban bagi sang ibu. Ia beranggapan karena alasan itulah yang akhirnya mendorong ibunya mengambil keputusan beresiko ini.
Konflik dan pergulatan batin Natsuko tak kalah pelik. Setelah ia sukses dengan novel best seller-nya, ia mendapat tekanan untuk segera menyelesaikan novel kedua yang tak kunjung ia selesaikan. Dalam proses penulisan proyek barunya Natsuko malah menemukan informasi soal inseminasi buatan.
Informasi ini memantik ide dalam kepala Natsuko. Selama ini ia memang menginginkan seorang anak, tetapi ia mengalami masalah besar sebab Natsuko tidak memiliki gairah untuk berhubungan seksual. Natsuko mendapat tantangan lebih pelik lagi, karena ternyata mendapatkan donasi di bank sperma tidak mudah, terlebih bagi orang berstatus belum menikah sepertinya.
Di dalam buku ini ada beberapa topik bahasan yang diangkat. Seperti patriarki dan seksisme, standar kecantikan, gaya hidup para wanita yang gemar memburu barang branded, status wanita setelah menikah yakni menjadi istri, menantu dan ibu. Kemudian ada bahasan soal kekerasan dalam rumah tangga dan isu-isu lainnya.
Penulis berhasil membuat pembaca ingin segera menghabiskan buku ini karena beberapa alasan. Selain karena isu yang menarik, tiap bab dalam buku ini juga selalu dibuka dengan kalimat yang berhasil memantik rasa penasaran pembaca. Cara Kawakami menyusun dialog dan narasi juga sangat indah, apalagi cara ia menggambarkan suasana dengan begitu detail hingga membuat pembaca mampu masuk ke dalam ceritanya.
Buku ini bisa jadi bacaan yang menyenangkan namun bisa juga membosankan. Sebab Kawakami menceritakan kisah ketiga wanita tokoh utamanya itu dengan tempo yang lambat.
Ada satu kalimat menarik yang disampaikan oleh Kawakami yaitu, “Ketika kau ingin tahu seberapa miskin hidup seseorang, tanya saja ada berapa jendela di rumah masa kanak-kanaknya.”
Kenapa jendela? Karena bagi masyarakat Jepang khususnya yang tinggal di perkotaan, mereka hidup di dalam apartemen sempit yang overcrowded. Rumah atau apartemen murah di Jepang sering kali berhimpitan dengan bangunan lain, sehingga tidak ada ruang tersisa yang ideal untuk sebuah jendela.
(Sumber: Buku “Susu dan Telur” oleh Kawakami Mieko)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....