Menyingkap Sisi Gelap Kedewasaan: Catatan Reflektif pada Karya Okki Sutanto
- 26 Agt 2026 15:15 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan — Buku Yang Tak Terkatakan tentang Menuju Dewasa karya Okki Sutanto, yang dirilis oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), hadir sebagai sebuah ruang jeda dan pemaknaan ulang bagi siapapun yang sedang mengarungi fase transisi menuju kedewasaan. Di tengah ramainya romantisisme tentang kesuksesan usia muda, karya ini berani membongkar realitas yang kerap disembunyikan: bahwa menjadi dewasa sering kali dipenuhi rasa asing, kebingungan, dan kesepian.
Melalui gaya narasi yang jujur, intim, dan penuh empati, Okki Sutanto membedah berbagai pergolakan batin yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah formal. Penulis mengajak pembaca untuk melihat bahwa ketidakpastian serta rasa cemas bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses bertumbuh.
Secara fundamental, bagian awal buku ini menyoroti kerapuhan emosional saat seseorang harus menanggalkan identitas lamanya sebagai remaja untuk memasuki dunia dewasa yang serba menuntut. Transisi ini sering kali memicu krisis identitas (quarter-life crisis), di mana seseorang merasa kehilangan arah di tengah ekspektasi sosial yang menumpuk.
Okki Sutanto mengurai perasaan kecemasan tersebut secara runtut, menegaskan bahwa ketakutan akan masa depan adalah hal yang sangat manusiawi. Penulis memberi rasa tenang dengan memvalidasi bahwa tidak memiliki semua jawaban di awal perjalanan kedewasaan adalah hal yang wajar.
Memasuki bab-bab selanjutnya, buku ini membedah pergeseran dinamika relasi sosial, pertemanan, dan keluarga yang terjadi seiring bertambahnya usia. Pertemanan yang dulunya terasa erat perlahan mulai merenggang karena perbedaan prioritas hidup, kesibukan karir, atau jarak fisik.
Melalui penjelasannya, pembaca diajak untuk merelakan fase "datang dan pergi" dalam hubungan antaramanusia tanpa rasa benci atau penyesalan. Penerimaan atas perubahan dinamika sosial ini menjadi salah satu pilar penting untuk membentuk kedewasaan emosional yang tangguh.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia mengemas buku ini dengan pendekatan estetik dan penceritaan yang sangat komunikatif, membuat setiap halamannya terasa mengalir dan dekat dengan realitas generasi muda. Tulisan-tulisan di dalamnya tidak terkesan menggurui, melainkan terasa seperti percakapan jujur dengan kawan dekat di tengah malam.
Setiap perenungan yang disajikan berakar dari pengamatan atas dinamika kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan karir, kelelahan mental, hingga penerimaan atas kegagalan. Struktur penulisan yang tertata rapi memudahkan pembaca untuk meresapi setiap poin refleksi secara mendalam.
Salah satu topik krusial yang diangkat oleh Okki Sutanto adalah tekanan untuk terlihat "berhasil" menurut standar umum yang diciptakan oleh lingkungan sekitar. Banyak anak muda terjebak dalam perlombaan semu hanya karena takut dianggap tertinggal atau gagal di mata orang lain.
Buku ini membekali pembaca dengan sudut pandang baru untuk mendefinisikan ulang arti keberhasilan secara personal dan autentik. Sukses tidak melalu tentang pencapaian materi yang memukau, melainkan tentang ketenangan batin dan keberanian untuk jujur pada pilihan hidup sendiri.
Aspek finansial, kemandirian, dan tanggung jawab pekerjaan juga tidak luput dari bedahan kritis penulis dalam merekam realitas kedewasaan. Mengelola keuangan dan menghadapi dunia kerja yang keras acap kali memberikan kejutan mental yang menguras energi dan pikiran.
Okki Sutanto tidak memberikan rumus ajaib yang tidak realistis, melainkan mengajak pembaca untuk membangun resiliensi atau daya tahan mental di tengah gempuran realitas tersebut. Kemampuan untuk bangkit dari kekecewaan adalah kunci utama agar tidak runtuh di jalan.
Selain masalah eksternal, buku ini menaruh perhatian besar pada proses berdamai dengan diri sendiri dan memperbaiki komunikasi internal (self-talk). Banyak individu dewasa yang menjadi kritikus paling kejam bagi dirinya sendiri tatkala rencana yang disusun tidak berjalan sesuai harapan.
Melalui narasi yang penuh belas kasih (self-compassion), penulis mengingatkan pentingnya bersikap lembut pada diri sendiri saat sedang berada di titik terendah. Memaafkan kesalahan masa lalu adalah syarat mutlak untuk bisa melangkah dengan beban yang lebih ringan.
Implikasi positif dari meresapi poin-poin dalam buku ini terasa pada terbentuknya kesadaran baru dalam memandang lika-liku kehidupan. Pembaca diajak untuk tidak lagi menghindari konflik emosional, melainkan menghadapinya sebagai materi pembelajaran hidup yang berharga.
Kedewasaan sejati pada akhirnya ditandai oleh kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan, baik pada diri sendiri, orang lain, maupun situasi yang tidak bisa dikontrol. Pemahaman ini melahirkan ketenangan sikap di tengah ketidakpastian dunia.
Pada akhirnya, Yang Tak Terkatakan tentang Menuju Dewasa karya Okki Sutanto terbitan KPG merupakan sebuah pelukan hangat sekaligus cermin bagi siapa saja yang sedang berjuang mendewasakan diri. Buku ini menyimpulkan bahwa menjadi dewasa adalah proses belajar yang terus berlanjut tanpa garis akhir yang kaku.
Dengan keberanian untuk mengakui hal-hal yang tak terkatakan—seperti rasa takut, duka, dan keraguan—setiap orang dapat melangkah maju dengan lebih bijak, jujur, dan berdaya di atas kakinya sendiri.
(Sumber: Gramedia.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....