Mengurai Fenomena "Generasi Sandwich" Melalui Karya Terbaru Mahestha Rastha

  • 21 Mei 2026 12:47 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan — Menjadi anak sulung sering kali diidentikkan dengan figur yang mandiri, kuat, dan diandalkan. Namun, di balik ekspektasi tinggi yang disematkan keluarga dan lingkungan, tersimpan tumpukan beban emosional serta tanggung jawab moral yang kerap kali tidak kasat mata.

Fenomena psikologis dan sosial inilah yang dibedah secara mendalam oleh penulis Mahestha Rastha Andaara dalam karya terbarunya berjudul Beban Anak Pertama. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Cloud Books pada 2 Mei 2026 ini, langsung menarik perhatian publik karena mengangkat isu yang sangat dekat dengan realitas kehidupan keluarga di Indonesia.

Melalui pendekatan yang empiris namun tetap menyentuh sisi humanis, buku ini merangkum dinamika mental yang dihadapi oleh para anak sulung yang sering kali terjebak menjadi fondasi utama penopang keluarga.

Bahasan Utama: Ekspektasi, Pengorbanan, dan Krisis Identitas

Buku Beban Anak Pertama tidak hanya sekadar memvalidasi rasa lelah yang sering dirasakan anak sulung, tetapi juga menguliti akar permasalahannya melalui beberapa poin krusial:

  • Pola Asuh dan "Tuntutan Otomatis": Mahestha menjelaskan bagaimana budaya menempatkan anak pertama sebagai "orang tua kedua" bagi adik-adiknya sejak usia dini. Tuntutan untuk selalu mengalah, memberi contoh, dan sukses secara finansial sering kali diberikan secara otomatis tanpa melihat kesiapan mental si anak.

  • Akar Generasi Sandwich: Buku ini menyoroti bagaimana anak pertama paling rentan terjebak dalam lingkaran sandwich generation—kondisi di mana seseorang harus membiayai hidup orang tuanya sekaligus menghidupi diri sendiri atau keluarga kecilnya di masa depan.

  • Krisis Identitas dan Penekanan Emosi: Salah satu bab yang paling menggugah adalah pembahasan mengenai bagaimana anak pertama cenderung tumbuh menjadi seorang pleaser (selalu ingin memuaskan orang lain) dan kesulitan mengekspresikan kerapuhan mereka karena dituntut untuk selalu terlihat kuat.

Refleksi Penulis: "Anak pertama sering kali dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka belajar mengubur impian pribadi demi menjaga agar perahu keluarga tidak karam." — Mahestha Rastha Andaara, Beban Anak Pertama

Jembatan Komunikasi Antargenerasi

Lebih dari sekadar buku motivasi atau keluhan, karya Mahestha Rastha Andaara ini bertindak sebagai panduan dan jembatan komunikasi. Penulis menawarkan solusi konkret mengenai bagaimana anak pertama bisa menetapkan batasan yang sehat (healthy boundaries) dengan orang tua tanpa harus merasa bersalah atau dicap sebagai anak durhaka.

Di sisi lain, buku ini juga menjadi tamparan lembut bagi para orang tua agar lebih bijak dalam mendidik dan tidak membebankan kegagalan atau impian masa lalu mereka ke pundak anak tertua.

Kesimpulan: Suara bagi Mereka yang Terbungkam

Hadirnya buku Beban Anak Pertama di pertengahan tahun 2026 ini seolah menjadi angin segar sekaligus ruang terapi bagi jutaan anak sulung di Indonesia yang selama ini merasa sendirian dalam memikul beban keluarga. Melalui artikel jurnalistik ini, kita diingatkan kembali bahwa di balik ketangguhan seorang anak pertama, ada jiwa yang juga butuh didengar, divalidasi, dan diberikan ruang untuk sesekali menjadi lelah.

(Sumber: gramedia.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....