Mengupas Tuntas 'Jangan Menikah sebelum selesai dengan Diri Sendiri'

  • 25 Apr 2026 13:08 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Banyak orang terjebak dalam mitos bahwa pernikahan adalah "obat ajaib" yang akan menyelesaikan segala permasalahan hidup, mulai dari rasa kesepian, masalah finansial, hingga luka masa lalu. Namun, benarkah demikian? Buku terbaru karya penulis produktif Ahmad Rifai Rifan, Jangan Menikah Sebelum Selesai dengan Diri Sendiri (Elex Media Komputindo, 19 Februari 2024), hadir untuk membongkar miskonsepsi tersebut secara mendalam.

Buku ini menjadi pengingat krusial bagi generasi masa kini bahwa sebelum menjalin komitmen suci dengan orang lain, setiap individu memiliki tanggung jawab utama untuk "selesai" dengan diri mereka sendiri.

Definisi "Selesai" yang Sebenarnya

Ahmad Rifai Rifan menekankan bahwa "selesai dengan diri sendiri" bukan berarti seseorang harus menjadi sempurna atau tanpa cela. Sebaliknya, konsep ini merujuk pada kondisi di mana seseorang telah mampu mengenali, menerima, dan mengelola emosi serta trauma masa lalunya.

Penulis berargumen bahwa banyak konflik dalam rumah tangga dipicu oleh ketidaksiapan emosional salah satu atau kedua pasangan. Jika seseorang membawa beban emosional yang belum tuntas ke dalam pernikahan, mereka cenderung menjadikan pasangannya sebagai "pelarian" atau bahkan "terapis" yang tidak seharusnya.

Poin-Poin Kunci dalam Buku

Dalam tulisannya, Rifan membedah beberapa aspek krusial yang sering luput dari perhatian calon pengantin:

  • Pentingnya Self-Healing: Buku ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan luka masa kecil atau kegagalan masa lalu. Tanpa penyembuhan, luka tersebut berisiko memengaruhi pola asuh dan komunikasi dengan pasangan di masa depan.

  • Meluruskan Niat: Mengapa seseorang ingin menikah? Apakah untuk mencari kebahagiaan atau untuk melarikan diri dari kesendirian? Buku ini menuntun pembaca untuk memiliki orientasi pernikahan yang sehat dan matang.

  • Pentingnya Mengenali Diri Sendiri: Sebelum memahami karakter orang lain, seseorang wajib memahami karakternya sendiri—apa pemicu kemarahannya, apa bahasa cintanya, dan apa batasan pribadinya (personal boundaries).

  • Pernikahan adalah Ruang Tumbuh: Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua jiwa, melainkan ruang untuk saling bertumbuh. Namun, pertumbuhan ini hanya akan optimal jika kedua belah pihak sudah memiliki fondasi karakter yang cukup kuat sebelum dipersatukan.

Mengubah Paradigma Tentang Pasangan

Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah bahaya menggantungkan kebahagiaan 100% pada pasangan. Ahmad Rifai Rifan mengingatkan bahwa pasangan adalah rekan perjalanan (partner in crime), bukan sumber utama kebahagiaan. Jika seseorang tidak mampu membuat dirinya bahagia sebelum menikah, sangat sulit baginya untuk memberikan kebahagiaan bagi pasangannya kelak.

Sebuah Panduan Reflektif

Dengan gaya bahasa yang lugas namun tetap menggugah empati, buku ini bukan hanya sekadar bacaan motivasi, melainkan sebuah panduan reflektif. Bagi mereka yang sedang berencana melangkah ke jenjang pernikahan, buku ini bertindak sebagai "cermin" untuk mengevaluasi kesiapan diri secara mental dan spiritual.

Jangan Menikah Sebelum Selesai dengan Diri Sendiri menjadi literatur yang relevan di tengah tingginya angka perpisahan saat ini. Buku ini mengajak setiap individu untuk berhenti sejenak, membenahi diri, dan memastikan bahwa ketika mereka mengucap janji suci, mereka melakukannya dari posisi yang utuh, bukan dari rasa kurang atau ketergantungan yang tidak sehat.

Ahmad Rifai Rifan dikenal sebagai penulis yang konsisten mengangkat tema-tema pengembangan diri dan refleksi kehidupan. Karyanya sering kali menyentuh sisi psikologis pembaca dengan pendekatan yang membumi dan aplikatif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....