Ringgit Boleh Melintas, Rupiah Tetap Berdaulat
- 15 Sep 2026 19:05 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Setiap pagi, Qaldi berjalan kaki menuju sekolah dengan membawa uang jajan dalam bentuk ringgit Malaysia. Uang itu diberikan orang tuanya yang bekerja sebagai penombak sawit dan menerima upah dalam mata uang negara tetangga.
Namun, begitu tiba di SD Negeri 004 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, ringgit tersebut tidak bisa langsung digunakan. Qaldi harus menukarkannya terlebih dahulu menjadi Rupiah sebelum membeli makanan di kantin sekolah.
Kebiasaan sederhana itu menjadi bagian dari keseharian Qaldi, sekaligus cara ia mengenal mata uang negaranya sendiri. Di sekolahnya, Kantin Rupiah menjadi ruang kecil untuk memperkenalkan bahwa setiap transaksi di wilayah Indonesia menggunakan Rupiah.
“Kalau di rumah di sebelah (Malaysia) pakai ringgit karena bapak dapat gajinya ringgit, tapi kalau di Indonesia pakai Rupiah, ditukar dulu baru boleh jajan,” ujar Qaldi, Selasa (15/9/2026).
Qaldi kini tidak hanya mengenal Rupiah sebagai uang untuk membeli jajanan. Ia mulai mengenali gambar tokoh yang tercetak pada lembaran uang dan mengetahui bahwa sosok tersebut merupakan bagian dari sejarah Indonesia.
“Jadinya hafal kayak di uang seratus ribu itu foto Pak Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia,” katanya.
Bagi anak-anak di Sebatik, mengenal Rupiah memang memiliki cerita yang berbeda. Mereka tumbuh di pulau yang secara geografis terbagi dua negara, sehingga ringgit dan Rupiah bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan sehari-hari.
Di rumah, sebagian anak menggunakan ringgit. Tetapi ketika mereka melangkah ke sekolah di wilayah Indonesia, Rupiah menjadi bahasa transaksi yang harus mereka kenal.
Di situlah makna Rupiah di perbatasan lebih dari sekadar alat pembayaran. Selembar uang menjadi penanda sederhana tentang seseorang sedang berada dan sebagai bagian dari identitas negara yang menaunginya.
Cerita tentang ringgit di Sebatik bukanlah hal baru. Selama puluhan tahun, penggunaan mata uang Malaysia bahkan lebih terasa karena sebagian besar kebutuhan masyarakat didatangkan dari wilayah tetangga.
Husnia, warga Sebatik Tengah, masih mengingat masa ketika masyarakat harus menyesuaikan harga dengan ringgit. Kedekatan geografis membuat mata uang Malaysia ikut hadir dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.
“Kan barang sembako dari sebelah (Malaysia) dibeli dengan ringgit, makanya kita beli pun harga ringgit, tapi sekarang ndak sudah, karena banyak sudah bank, bisa sudah kita tukar uang,” kata Husnia.
Perlahan, kondisi itu berubah. Rupiah semakin banyak beredar dan digunakan dalam transaksi masyarakat di wilayah Indonesia.
Perubahan tersebut salah satunya dirasakan Siti Aisyah, pedagang sembako di Desa Aji Kuning, Sebatik Tengah. Ia mengatakan, dahulu hampir 90 persen kebutuhan pokok masyarakat didatangkan dari Malaysia sehingga ringgit lebih dominan dalam transaksi.
Namun, peredaran Rupiah semakin kuat ketika hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat yang selama ini dijual ke Malaysia mulai dibayarkan menggunakan Rupiah pada 2022.
“Kalau dulu memang agak susah karena uang ringgit kan banyak dari sebelah, tapi sejak sawit dibayar uang Rupiah sudah, nah di situ banyak juga uang Rupiah, baru Pak Camat juga selalu sampaikan supaya kita pakai uang Rupiah,” ujarnya.
Perubahan itu menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Rupiah tidak cukup hanya dibangun melalui ajakan. Rupiah akan semakin kuat ketika hadir dalam aktivitas ekonomi masyarakat dan mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebatik memang tidak mungkin dipisahkan dari hubungan ekonomi dengan Malaysia. Ringgit masih digunakan ketika masyarakat melakukan transaksi di wilayah Malaysia, termasuk ketika menjual hasil perkebunan atau membeli kebutuhan tertentu.
Siti Aisyah pun mengaku masih menerima ringgit ketika ada warga yang datang berbelanja. Menurutnya, aktivitas ekonomi dengan masyarakat negara tetangga tetap berjalan sehingga penggunaan ringgit masih menjadi bagian dari realitas masyarakat perbatasan.
Untuk itu, yang dibangun bukanlah sekadar larangan menggunakan ringgit, terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk menggunakan mata uang sesuai dengan wilayah transaksinya.
Ketika berada di Malaysia, ringgit digunakan. Namun ketika transaksi dilakukan di wilayah Indonesia, Rupiah menjadi alat pembayaran yang sah sekaligus bagian dari identitas negara.
Camat Sebatik Tengah Aris Nur mengatakan, penggunaan Rupiah di perbatasan berkaitan erat dengan upaya menjaga kedaulatan negara. Masyarakat perlu memahami bahwa mata uang merupakan salah satu penanda keberadaan sebuah negara.
“Salah satu cirinya menjaga kedaulatan negara itu kan penggunaan nilai mata uangnya,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian diteruskan kepada generasi yang lebih muda. Sebanyak 19 desa di Pulau Sebatik pernah mengikuti lomba Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah yang digelar Bank Indonesia sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.
Namun edukasi tidak berhenti di tingkat desa. Sekolah menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kebiasaan menggunakan Rupiah sejak anak-anak.
Kantin Rupiah di SD Negeri 004 Sebatik Tengah menjadi contoh kecil bagaimana edukasi itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang membawa ringgit dari rumah harus menukarkannya terlebih dahulu sebelum membeli jajanan.
Program tersebut mendapat dukungan kepala sekolah sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa yang tinggal di wilayah Sebatik Malaysia dan sehari-hari lebih akrab dengan ringgit.
Kepala SD negeri 004 Sebatik Tengah, Sitti Ara mengatakan pengenalan Rupiah sangat penting karena sebagian siswa datang ke sekolah dengan membawa uang jajan dalam mata uang Malaysia. Menurutnya, melalui Kantin Rupiah, mereka dibiasakan menukarkan ringgit menjadi Rupiah sebelum bertransaksi, sehingga penggunaan mata uang Indonesia menjadi bagian dari keseharian mereka di sekolah.
“Kami melihat anak-anak ini sehari-hari menggunakan ringgit karena tinggal di sebelah kan. Jadi ketika mereka sekolah di Indonesia, kami ingin mereka juga mengenal Rupiah,” kata Sitti Ara.
Dari sinilah Qaldi dan siswa lainnya mulai mengenal Rupiah bukan hanya sebagai uang untuk membeli makanan. Mereka juga belajar mengenali nilai pecahan, menggunakan uang dalam transaksi, hingga mengetahui tokoh-tokoh yang tergambar pada lembaran Rupiah.
Kebiasaan sederhana itu kemudian menjadi cara sekolah menanamkan kecintaan terhadap Rupiah sejak dini. Anak-anak yang sehari-hari hidup di lingkungan Malaysia tetap memiliki ruang untuk mengenal dan memahami mata uang negaranya ketika mereka berada di Indonesia.
Menurut Aris Nur, kebiasaan menggunakan Rupiah perlu ditanamkan sejak anak-anak, terutama bagi siswa yang tinggal di wilayah Malaysia tetapi bersekolah di Indonesia.
“Anak-anak harus mengenal Rupiah sejak dini, terutama anak-anak pekerja migran yang tinggal di wilayah Malaysia. Ketika mereka bersekolah di Indonesia, mereka harus terbiasa menggunakan Rupiah,” kata Aris.
Bagi Aris, kebiasaan tersebut penting karena kecintaan terhadap Rupiah tidak cukup hanya dijelaskan melalui sosialisasi. Anak-anak perlu menggunakannya agar mengenal dan memahami Rupiah melalui pengalaman sehari-hari.
“Anak-anak harus mengenal Rupiah sejak dini, terutama anak-anak pekerja migran yang tinggal di wilayah Malaysia. Ketika mereka bersekolah di Indonesia, mereka harus terbiasa menggunakan Rupiah,” katanya.
Dari sebuah kantin, tiga pesan tentang Rupiah tumbuh secara bersamaan. Anak-anak belajar mencintai mata uang negaranya dengan menggunakannya, bangga karena Rupiah menjadi identitas Indonesia, dan paham tentang nilai serta fungsi uang yang mereka pegang.
Pelajaran itu bahkan tidak membutuhkan ruang kelas khusus. Cukup dengan membeli makanan, menerima kembalian, kemudian mengenali siapa sosok yang tercetak di lembaran Rupiah.
Upaya memperkuat kehadiran Rupiah di Sebatik juga ditandai dengan berdirinya Tugu Rupiah Berdaulat. Tugu tersebut diresmikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni Primanto Joewono pada 24 Februari 2024 sebagai bagian dari komitmen memperkuat edukasi Rupiah di wilayah perbatasan.
Tugu itu menjadi simbol bahwa Rupiah harus hadir sampai ke wilayah terdepan Indonesia. Namun, kedaulatan Rupiah sesungguhnya tidak hanya berdiri dalam bentuk bangunan.
“Rupiah tidak hanya sebagai alat transaksi tetapi juga sebagai simbol kedaulatan negara. Oleh karena itu, Rupiah wajib hadir di wilayah Nusantara, termasuk di daerah perbatasan dan tidak ada ruang sedikit pun selain Rupiah,” ujar Doni.
Di Sebatik, selembar Rupiah mungkin hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun di tanah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, setiap Rupiah yang digunakan menjadi simbol bahwa Indonesia hadir dan tetap memiliki identitasnya.
Dua mata uang mungkin sama-sama dikenal di Sebatik. Namun hanya satu yang membawa nama Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....