Batu Perupun: Pesan Tua Dari Tanah Krayan

  • 31 Agt 2026 21:25 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Di tengah kehidupan masyarakat Krayan yang terus bergerak menuju masa depan, ada sesuatu yang justru mengajak kita menoleh ke belakang.

Batu.

Bukan batu biasa. Di kawasan Krayan terdapat tinggalan budaya megalitik yang menjadi jejak kehidupan masyarakat masa lalu.

Salah satunya adalah Batu Pun di Lembah Kurid. Penelitian arkeologi BRIN menyebut Batu Pun sebagai tinggalan budaya megalitik berupa struktur batu yang membukit dengan beberapa menhir di bagian atasnya.

Bagi masyarakat modern, tumpukan batu mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi arkeologi, batu dapat menjadi dokumen yang menyimpan informasi mengenai kehidupan manusia pada masa lalu.

Di Krayan, tradisi megalitik menjadi bagian penting dari sejarah kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia. Penelitian arkeologi mencatat bahwa tinggalan megalitik tersebar di dataran tinggi Krayan.

Yang menarik, makna sebuah situs dapat berubah mengikuti perjalanan waktu.

Penelitian BRIN mengenai Batu Pun menunjukkan adanya perbedaan antara pemaknaan masyarakat melalui cerita dan mitos dengan penafsiran arkeologis mengenai fungsi struktur tersebut.

Bagi masyarakat Lundayeh, cerita mengenai batu diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara arkeologi berusaha membaca jejak tersebut berdasarkan bentuk, konteks dan bukti yang ditemukan.

Perbedaan tersebut justru membuat situs budaya menjadi semakin menarik. Sebab sebuah peninggalan tidak hanya mempunyai satu cerita.

Ia memiliki cerita ilmiah.

Ia memiliki cerita masyarakat.

Dan ia memiliki cerita tentang perjalanan waktu.

Di Desa Wa' Laya, situs Batu Perupun juga menjadi perhatian karena menyimpan jejak peradaban tua masyarakat Lundayeh. Liputan pada 2026 menggambarkan situs tersebut sebagai salah satu peninggalan yang masih menyimpan cerita mengenai kehidupan masyarakat masa lalu.

Persoalannya, peninggalan seperti ini sangat mudah kehilangan makna apabila tidak dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Situs budaya bukan sekadar objek wisata. Ia adalah sumber pengetahuan. Dari sana generasi muda dapat memahami bahwa masyarakat di wilayah perbatasan telah memiliki sejarah panjang jauh sebelum teknologi modern hadir.

Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya dengan memasang papan nama. Diperlukan dokumentasi, penelitian, pendidikan budaya dan keterlibatan masyarakat setempat.

Jika dikelola dengan tepat, situs-situs tersebut dapat menjadi bagian dari wisata budaya Krayan. Wisatawan tidak hanya datang melihat batu, tetapi memahami cerita manusia yang berada di baliknya.

Pada akhirnya, menjaga situs budaya berarti menjaga identitas. Sebab ketika sebuah peninggalan hilang, yang hilang bukan hanya batu atau benda fisik. Sebagian cerita tentang manusia dan sejarah juga ikut menghilang.

Batu Pun dan berbagai tinggalan megalitik di Krayan seakan menyampaikan pesan dari masa lalu: bahwa wilayah perbatasan ini bukan ruang kosong di ujung Indonesia. Di tanah ini pernah tumbuh peradaban, pernah hidup manusia dengan kebudayaannya, dan jejaknya masih menunggu untuk dipahami oleh generasi hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....