Kisah Pelestarian Tari Khas Kalimantan

  • 12 Jan 2026 14:36 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tantangan menjaga eksistensi tarian tradisional semakin nyata. Namun, ada sosok Sari, seorang anak muda yang konsisten melestarikan tarian khas Kalimantan.

Wanita berusia 34 tahun itu bercerita, awal mula ketertarikannya terhadap tari tradisional sejak 20 tahun silam. Kala itu, ia membawakan Tari Jepen Khas Suku Tidung, yang mengisahkan tentang kehidupan masyarakat pesisir.

Gerakan yang dinamis, dibalut dengan kostum warna-warni dan hiasan kepala yang khas, Tarian Jepen dibawakan dengan lincah, mencerminkan ketangkasan masyarakat pesisir.

Sejak itu, Sari pun bergabung dengan sanggar tari dan mulai mendalami berbagai jenis tarian tradisional, termasuk Tari Dayak. Tak hanya tari Khas Kalimantan, Sari turut mengeksplor beragam jenis tarian tradisional lainnya. Menurutnya, mempelajari tarian nusantara memberikannya ruang untuk berkarya.

“Kalau tradisional itu nggak bakalan mati sih kak, karena jati diri negara adalah tarian tradisional. Kenapa saya tetap angkat tradisional, karena dari dulu saya pelajari dan kembangkan sampai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Veteriner di Indonesia

Kini, Sari telah mendirikan sanggar tarinya sendiri bernama Sari Art Project. Sari pun aktif menjadi penata tari dan guru yang konsisten melestarikan tari nusantara di wilayah perbatasan.

Menurutnya, bagian yang paling sulit adalah pengkhayatan ketika menari. Sebab, menari bukan sekadar menggerakan tangan dan kaki sesuai irama lagu, tetapi perlu mengekspresikan kepada penonton cerita di baliknya.

“Kalau gerakan insyallah cepat saja menghapal dan menyesuaikan, ekspresinya bagaimana saya harus menari, jangan sampai saya menari tapi penonton nggak tahu. Jadi dari situ saya pelajari, saya menari, penonton harus bisa merinding, marah, merasakan apa tujuan saya menari. Jadi lebih ke ekspresi, penyampaian ke penonton,” jelasnya.

Ketika membuat gerakkan tari, Sari banyak mengangkat cerita rakyat seperti keseharian masyarakat nunukan berjualan rumput laut maupun kehidupan nelayan di pesisir laut. Dengan menggabungkan imajinasi sekaligus cerita rakyat maka jadilah sebuah mahakarya.

Foto: Penari Tradisional, Sari (Kerudung coklat). (RRI Nunukan/Tiara Aliya)

Tak hanya itu, Sari juga banyak berdiskusi dengan tokoh adat setempat ketika mengkreasikan sebuah tarian.

“Misal tentang pengkhianatan, tentang kebahagiaan, tentang pesta, itulah yang kita kembangkan, kita cari ceritanya dulu pesta rakyat ada apa saja, dari situ kita kembangkan lagi, oh kalau bahagia bajunya harus cerah nih. Apalagi kalau kita membuat tarian untuk lomba tema sudah ada, jadi kita harus kembangkan,” ucapnya.

Perjuangannya dalam melestarikan tarian nusantara tak terlepas dari rintangan. Meski begitu, tantangan tak memadamkan semangatnya dalam menjaga identitas budaya serta kearifan lokal melalui tarian. Ke depan, Sari berharap diberikan wadah untuk mengekspresikan diri melalui penyelenggaraan festival oleh pemerintah daerah. (TA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....