Kelangkaan Ikan di Nunukan hingga Meja Makan Warga
- 03 Sep 2025 22:29 WIB
- Nunukan
KBRN, Nunukan: Kelangkaan ikan yang terjadi beberapa pekan terakhir membuat masyarakat resah. Ikan pelagis kecil asal Malaysia, seperti layang, ketombong, dan rumah-rumah, yang selama ini menjadi pilihan karena harganya terjangkau, kini sulit ditemukan. Imbasnya langsung terasa di meja makan keluarga-keluarga di pedalaman Nunukan, seperti di Sebakis dan Sebuku, yang sangat bergantung pada pasokan dari pasar.
Kondisi ini bermula ketika kapal KM Manafman 02 ditangkap Ditreskrimsus Polda Kaltara pada 14 Agustus lalu karena mengangkut ikan dari Tawau tanpa sertifikat kesehatan. Sejak itu, jalur distribusi terganggu, dan para pengusaha angkutan ikan enggan beroperasi karena khawatir bernasib sama.
Bupati Nunukan H. Irwan Sabri yang turun langsung meninjau Pasar Yamaker pada Rabu (3/9/2025) mengaku prihatin. Bersama Forkopimda, DPRD Nunukan, dan Kepala DKP Provinsi Kaltara Rukhi Syayahdin, ia berdialog dengan para pedagang untuk mencari solusi. “Kami sepakat percepatan perizinan harus dilakukan. Selama menunggu, kearifan lokal tetap diberlakukan agar masyarakat tidak semakin sulit mendapatkan ikan,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Nunukan, Arpiah, menegaskan kebutuhan utama untuk legalitas impor adalah gudang penyimpanan dan pembentukan koperasi. “ASPINS sudah siap menyediakan gudang di area Pasar Yamaker. Dua petak sudah disepakati, dan koperasi akan menjadi wadah pengelolaan bersama antara pemasok dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Dari provinsi, Kepala DKP Kaltara Rukhi Syayahdin menyebut percepatan perizinan untuk Nunukan kini menjadi prioritas. “Impor dari Tawau sebenarnya sudah berjalan, hanya legalitas yang belum tuntas. Gudang, dokumen SKP, pengolahan, dan mitra eksportir di Malaysia harus segera dipenuhi agar semua sinergi, baik kabupaten, provinsi, maupun pusat,” jelasnya.
Meski begitu, pertemuan di Pasar Yamaker hari itu memberikan secercah harapan. Empat poin kesepakatan dihasilkan. pemberlakuan kearifan lokal sembari menunggu izin, pembentukan koperasi, pembangunan cold storage, serta dorongan kepada Pemprov Kaltara agar mempercepat legalisasi impor berbasis kearifan lokal.
Bagi pedagang kecil seperti, keputusan itu ibarat titik terang. “Yang penting ada pasokan lagi, biar kami bisa jual seperti biasa. Kalau ikannya tidak ada, kami juga tidak bisa hidup,” tutur Anto, pedagang ikan Yamaker dengan mata berbinar.
Kelangkaan ikan di Nunukan telah menyentuh hajat hidup masyarakat perbatasan, yang telah lama bergantung pada perdagangan lintas batas dengan Malaysia. Di tengah aturan hukum yang kaku, kearifan lokal menjadi jembatan sementara agar dapur-dapur warga tetap mengepul. MM
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....