Tentang Takdir, Tenyata Kita Masih Amatir

  • 09 Sep 2026 06:49 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Takdir merupakan bagian dari keimanan yang mengajarkan manusia untuk menerima setiap ketetapan Allah SWT, baik berupa nikmat maupun ujian. Namun, dalam praktiknya, menerima takdir dengan penuh keridhaan bukanlah perkara mudah.

Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Nunukan, Ustaz Anam Azhari, saat menjadi narasumber acara Mutiara Pagi di RRI Nunukan yang mengangkat topik “Tentang Takdir, Ternyata Kita Masih Amatir.”

Ustaz Anam mengingatkan, salah satu bentuk kenikmatan terbesar dalam kehidupan adalah ketika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan aman, sehat, serta memiliki makanan yang dapat dinikmati. Menurutnya, manusia kerap lupa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Bahkan, ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, tidak jarang manusia justru mengeluh hingga mempertanyakan ketetapan Allah.

“Kita mengeluh bahkan marah kepada Allah karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita ingin kaya, ternyata qadar Allah menuliskan kita tidak kaya,” ujar Ustaz Anam, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, persoalan menerima takdir bukan hanya tentang ikhlas, tetapi juga bagaimana seseorang mampu ridha terhadap qada dan qadar Allah SWT. Ustaz Anam mengibaratkan kondisi tersebut dengan sebuah penggalan lirik lagu, “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.” Menurutnya, ungkapan tersebut dapat menjadi refleksi bahwa manusia sering kali merasa telah ikhlas, tetapi masih kesulitan menerima ketetapan Allah ketika sesuatu yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kalau soal ikhlas kita ternyata masih amatir seperti lirik lagu. Tapi ikhlas itu nomor dua, nomor satunya adalah ridha terhadap qada dan qadar Allah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Anam menerangkan bahwa qada dan qadar Allah SWT telah ditetapkan jauh sebelum penciptaan langit dan bumi. Karena itu, manusia hendaknya memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan berada dalam ilmu dan ketetapan Allah SWT.

Ia menilai, manusia sering kali mudah menerima takdir ketika mendapatkan kenikmatan. Namun, ketika mendapatkan musibah, penerimaan tersebut menjadi jauh lebih sulit.

“Ketika kita mendapatkan nikmat, kita menerima itu takdir dari Allah. Tapi ketika kita mendapat musibah, kita tidak menerima takdir dari Allah. Di sinilah kita masih amatir menerima takdir Allah,” tuturnya.

Menurutnya, Allah SWT akan memberikan berbagai bentuk ujian kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, serta buah-buahan. Namun, di antara berbagai ujian tersebut, kehilangan orang yang dicintai menjadi salah satu ujian yang sangat berat. Kehilangan orang tua, anak, maupun orang terdekat sering kali membuat seseorang sulit menerima kenyataan karena adanya rasa memiliki yang begitu kuat.

“Yang paling berat daripada semua musibah adalah musibah kehilangan. Kehilangan orang yang kita cintai seperti orang tua, anak, itu sesuatu yang berat untuk kita percaya kepada qada dan qadar Allah karena kita merasa memiliki,” ungkapnya.

Untuk dapat mencapai keridhaan terhadap takdir, lanjut Ustaz Anam, seseorang perlu terus berlatih dan memahami bahwa setiap keadaan yang terjadi dalam kehidupan pada akhirnya akan berlalu. Ia juga mengingatkan bahwa besarnya ujian yang diterima seorang hamba dapat menjadi jalan datangnya pahala yang besar apabila dihadapi dengan kesabaran dan keridhaan.

Karena itu, menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha atau menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, manusia tetap berikhtiar, sembari menyadari bahwa hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....