Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan, KNPI Nunukan Gelar Seminar Keperempuanan
- 31 Des 2023 17:35 WIB
- Nunukan
KBRN, Nunukan: Dalam upaya mencegah dan meminimalisir tingginya angka kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak, pengurus DPD KNPI Nunukan menggelar seminar keperempuanan di Cafe Sayn Nunukan, pada Minggu (31/12/2023).
Ketua DPD KNPI Nunukan, Anna Bela Morizcha, melalui Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Astika mengatakan, banyak kasus kekerasan seksual di Nunukan menjadi perhatian KNPI sehingga perlu menindaklanjutinya dengan cara edukasi melalui seminar.
“ KNPI memonitoring informasi media, baik media cetak maupun elektronik, dari sejumlah informasi yang kami terima sepertinya KNPI harus berperan melakukan pendampingan korban sekaligus mengedukasi masyarakat agar mampu mencegah sedini mungkin jangan ada kasus seperti ini,” kata Sri Astika.
Seminar Keperempuanan tersebut merupakan rangkaian peringatan Hari Ibu Tahun 2023 dengan tema urgensi penanganan kekerasan seksual di lingkungan Masyarakat: Cegah, Kenali dan laporkan.
Narasumber dalam kegiatan tersebut, menghadirkan Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Endah Kurniawati, perwakilan RSUD Nunukan, dr. Erlins Ari Windiyareski dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Nunukan, Hj. Fajar Arsidana serta PPA Polres Nunukan, Briptu Eka Kumala Dewi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh KNPI Nunukan bekerjasama dengan PMII, Kohati, IMM dan GMKI.
Sri Astika mengungkapkan, masalah bullying, body shaming, dan sebagainya, juga menjadi permasalahan yang mengarah pada kekerasan seksual, menurutnya, sebagai generasi muda harus memiliki etika yang baik dalam menjalin komunikasi dengan teman, keluarga dan lainnya, baik berkomunikasi secara langsung ataupun di ruang-ruang media di media digital.
“ KNPI Nunukan khususnya Bidang Perlindungan anak dan Perempuan dan Narasumber berkomitmen membekali dan mendampingi masyarakat Nunukan, terkait upaya-upaya perlindungan terhadap kejahatan kekerasan seksual ini, jangan takut jika terjadi peristiwa yang menimpa perempuan dan anak, segera laporkan kepada Kami,” Ucapnya.
Dikesempatan yang sama, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DSP3A Nunukan, Endah Kurniawati, menjelaskan, Pelecehan seksual sering kali menjadi permasalahan yang tersembunyi.
Korban biasanya enggan untuk melaporkan pengalamannya, kejadian ini dapat terjadi di mana saja, selain di lingkungan sosial juga pada institusi pendidikan termasuk perguruan tinggi.
Perbuatan pelecehan atau kekerasan seksual dapat mengakibatkan banyak hasil negatif, seperti depresi, gejala PTSD, penurunan kesehatan mental, perasaan isolasi dan ketidakberdayaan, rasa bersalah dan malu atas diri sendiri, sehingga insomnia.
“ Sejumlah kasus yang telah kita tangani, korban cenderung menutupi apa yang terjadi pada dirinya sehingga informasi yang kita harapkan tidak maksimal, namun kita tetap berupaya melakukan pendekatan persuasif sehingga korban bisa menyampaikan peristiwa yang dialaminya hingga pada pemulihan psikologi agar tetap bergaul di lingkungan masyarakat,” jelas Endah.
Indonesia saat ini darurat kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Hampir setiap hari melihat banyaknya berita kekerasan hingga pelecehan seksual pada perempuan.
Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat jumlah korban kekerasan terhadap perempuan di Indonesia berjumlah 11.759 dalam Januari 2022 sampai saat ini.
Berbagai peristiwa kekerasan yang dialami perempuan terus terjadi. Sebagian dari mereka selalu disiksa, pemaksaan melalui sex dengan kekerasan, atau perlakuan kejam disepanjang hidupnya.
“ Dibutuhkan keberanian yang kuat dalam diri seseorang untuk menghadapi dan melaporkan tindakan kekerasan yang dialaminya, itu kata kuncinya, jadi bukan hanya kami tetapi masyarakat juga perlu melibatkan diri, segera laporkan jika ada kasus kekerasan terhadap perempuan, jangan hanya diam,” tegasnya.
Sementara itu narasumber lainnya, perwakilan RSUD Nunukan, dr. Erlina Ari Windyareski, mengatakan, Tindakan kekerasan seksual mempengaruhi kesehatan seksual perempuan.
Kekerasan seksual tidak hanya berdampak pada organ reproduksi secara fisik, namun juga berdampak pada kondisi psikis atau mental korban.
“ Disini kapasitas saya sebagai tenaga medis, konsulan lanjutan ketika menemukan korban ataukah pelaku, tidak sedikit ini kainnya dengan kesehatan reproduksi, jadi kita lebih kearah ke beberapa penyakit yang mungkin muncul sebagai salah satu kontak seksual yang diinginkan,” kata dr. Erlina.
Melalui kegiatan yang digelar KNPI Nunukan tersebut, sangat positif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat sehingga mereka mampu mencegah sedini mungkin kekerasan seksual sekaligus melaporkan peristiwa yang dialaminya.
“ kegiatan ini sangat positif, kiranya membuat kelompok kajian yang membahas perempuan untuk mendapatkan diskusinya lebih luas dan mensosialisasikan kepada masyarakat secara berkelanjutan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....