Gaya "Padu Padan" Soekarno Jadi Tonggak Arsitektur Indonesia

  • 20 Feb 2025 09:18 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Soekarno adalah peletak tonggak sejarah di bidang rancang bangun di Indonesia. Setelah menyandang gelar Ingeniur Hogeschool (TH-Bandoeng) tahun 1926, Soekarno merancang karya arsitektur sampai masa kejatuhannya sebagai Presiden sekitar tahun 1965. Dengan demikian, selama kurun waktu 1926-1965, Soekarno telah memberikan sumbangan karya arsitektur di Indonesia.

Gaya arsitektur Soekarno disebut 'Padu Padan' yang memadukan beberapa gaya sekaligus. Karyanya terbagi dalam tiga periode dengan perubahan gaya di setiap periodenya. Kemampuan arsitek Soekarno didapatkan secara otodidak, dimulai sejak ia bekerja magang sebagai draftsman di Biro Arsitek Schoemaker.

Salah satu pengakuan akademis mengenai keterlibatannya pada dunia rancang bangun di Indonesia adalah berupa anugerah gelar Doctor Honoris Causa dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1962.

Menurut promotornya, Prof. Roosseno, gelar tersebut dianugerahkan berdasarkan keahliannya sebagai insinyur arsitek. Arsitektur karya Presiden Soekarno yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia merupakan kekayaan intelektual Indonesia, karena sebagian besar keryanya telah menjadi arsitektur heritage.

Karya arsitektur Soekarno ditemukan di beberapa lokasi di Bandung, dan pernah dipamerkan dalam Pameran Karya Arsitektur Soekarno pada tahun 2001. Karya arsitektur Soekarno periode ini, ditemukan di Bengkulu berupa lima rancangan yang tediri:

1. Dua buah rumah kembar untuk seorang refendaris residen

2. Rumah seorang demang

3. Rumah untuk kantor Taman Siswa tetapi batal dibangun

4. Renovasi Masjid Jami di Bengkulu. Dan masih banyak lagi.

Padu Padan atap limasan dan ornamen padma, mengungkapkan pikiran arsitek Soekarno, yaitu spirit nasionalisme, kegandrungan untuk mengeksplorasi keindahan Budaya Negeri ini. (Sumber: Sejarah Nasional Indonesia).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....