Historis Lahirnya Lukiwol, Senam yang Menghidupkan Legenda Yaki Bentawol

  • 04 Okt 2026 06:25 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - LUKIWOL bukan sekadar senam. Di balik setiap gerakannya terdapat cerita, filosofi dan nilai budaya Suku Tidung yang diangkat dari legenda Yaki Bentawol.

Senam ini lahir pada 2019 dari kepedulian para guru di wilayah perbatasan untuk menjaga dan mengenalkan seni budaya lokal kepada generasi berikutnya. Gagasan LUKIWOL diinisiasi oleh Herison, S.Pd., bersama sejumlah guru perbatasan, di antaranya Siti Sabariah, S.Pd. dan Amiliah, S.Pd.Gr, yang kini dikenal sebagai Tim Pengembang Seni dan Budaya Suku Tidung.

LUKIWOL terinspirasi dari Iluk Yaki Bentawol. Ikuk berarti tarian, sedangkan Yaki Bentawol merupakan sosok dalam legenda masyarakat Suku Tidung. Kisah tersebut kemudian dituangkan ke dalam gerakan senam.

Gerakannya menggambarkan berbagai aktivitas dalam kehidupan Yaki Bentawol, mulai dari mengarungi sungai, menebang pohon, berburu, hingga menggambarkan kegembiraan sang istri ketika Yaki Bentawol pulang membawa hasil buruan.

“Setiap gerakan LUKIWOL memiliki filosofi dan menjadi bagian dari cara untuk menceritakan kembali kisah Yaki Bentawol melalui seni gerak,” kata Herison, Sabtu (4/10/2026)

Dalam perjalanan pengembangannya, gagasan tersebut kemudian dibahas bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Nunukan. Dari diskusi tersebut tercetus nama LUKIWOL, yang merupakan akronim dari Iluk Yaki Bentawol.

Dukungan terhadap lahirnya LUKIWOL juga datang dari berbagai pihak. Almarhumah Husnawati, pendiri Sanggar Primadona, turut memberikan apresiasi terhadap senam tersebut. Ia menyebut LUKIWOL sebagai “paket lengkap”, karena di dalamnya terdapat perpaduan unsur olahraga, seni, musik, gerak dan budaya.

“Suami almarhumah Ibu Husnawati, Pak Imam turut membawa senam LUKIWOL ke IOSKI (Ikatan Olahraga Senam Kreasi Indonesia), sehingga keberadaan senam tersebut dapat diperkenalkan dalam lingkup yang lebih luas”, ungkap Herison.

Dalam penggarapan musiknya, Robby Yustin, penyiar RRI Nunukan, turut berkontribusi melalui aransemen musik. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan kembali oleh Momoy. Sementara itu, penggunaan lagu Yaki Bentawol juga mendapat sambutan baik dari pencipta asli lagu tersebut.

Perjalanan LUKIWOL menunjukkan bahwa sebuah karya budaya dapat tumbuh dari kolaborasi banyak pihak. Dari para guru perbatasan, penggiat seni budaya, seniman, musisi hingga pemerintah daerah, semuanya mengambil bagian dalam menghidupkan kembali kisah Yaki Bentawol dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.

Kini, LUKIWOL tidak hanya menjadi sebuah senam, tetapi juga menjadi media pelestarian identitas budaya Suku Tidung. Persiapan menuju Rekor MURI Kabupaten Nunukan pun menjadi momentum untuk memperkenalkan LUKIWOL secara lebih luas sekaligus mengingatkan generasi muda bahwa di balik setiap gerakan terdapat cerita dan warisan budaya yang patut dijaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....