Tergerus Permainan Digital, Olahraga Tradisional Dikenalkan sejak Dini
- 12 Sep 2026 19:42 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Olahraga tradisional dinilai menghadapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan permainan digital yang membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon pintar. Kondisi ini mendorong Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) Kalimantan Utara untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi olahraga tradisional sejak usia dini.
Sekretaris Portina Provinsi Kalimantan Utara, Muhammad Al Bahasyin, mengatakan pengenalan olahraga tradisional kepada anak-anak tidak bisa lagi dilakukan secara terbatas. Menurutnya, olahraga tradisional harus lebih sering hadir dalam kegiatan masyarakat agar generasi muda tetap mengenal dan mau memainkannya.
“Di era digital saat ini, generasi Z dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, berbagai permainan disajikan melalui handphone sehingga sangat sedikit ruang untuk bermain tradisional,” kata Al Bahasyin, Sabtu (12/9/2026).
Ia menilai olahraga tradisional tidak sekadar permainan, tetapi merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Untuk itu, pelestariannya harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama dengan mengenalkan olahraga tersebut kepada anak-anak sejak dini.
Menurut Al Bahasyin, menghadirkan olahraga tradisional dalam berbagai event menjadi salah satu cara untuk membuat permainan tersebut kembali dekat dengan masyarakat. Kegiatan semacam ini juga dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain secara aktif sekaligus mengenal budaya daerahnya.
“Bagaimana anak-anak kita bisa melestarikan olahraga tradisional ini dengan sehat dan gembira,” ujarnya.
Khusus di Kabupaten Nunukan, pelestarian olahraga tradisional memiliki nilai strategis karena daerah ini berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Kedekatan wilayah tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkenalkan olahraga tradisional sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat negara tetangga.
“Masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan tentu memiliki akses yang lebih mudah untuk memperkenalkan olahraga tradisional ini ke negara tetangga,” katanya.
Al Bahasyin menyebut upaya tersebut sejalan dengan visi Portina di tingkat pusat yang mendorong olahraga tradisional Indonesia agar semakin dikenal hingga mancanegara. Untuk itu, keberadaan Portina di Nunukan diharapkan tidak hanya menjadi wadah pembinaan olahraga, tetapi juga ikut membawa budaya Indonesia dari wilayah perbatasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....