Sebelum Marco Polo Menyentuh Asia, Seorang Muslim Sudah Mengelilingi Dunia Tiga Ka

  • 06 Agt 2026 05:52 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Tahun 1325, seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Ibnu Batutah berangkat dari Tangier, Maroko, dengan niat sederhana yakni menunaikan ibadah haji.

Ia tidak tahu bahwa perjalanan itu akan membawanya menjelajahi dunia selama 29 tahun tanpa henti, menempuh jarak 120.000 kilometer yang melampaui semua penjelajah Eropa pada zamannya.

Sementara Marco Polo hanya menempuh sekitar 24.000 kilometer, Ibnu Batutah telah melintasi daratan dan lautan sejauh 120.000 kilometer, melewati setara 44 negara modern dari Afrika Utara hingga Tiongkok.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Kejayaan Ottoman

Sejarawan Barat George Sarton sendiri mengakui bahwa jarak perjalanan Ibnu Batutah jauh melampaui capaian Marco Polo, sebuah fakta yang sengaja dikecilkan dalam buku pelajaranmu.

Di India, Ibnu Batutah bukan sekadar turis. Ia diangkat menjadi hakim oleh Sultan Muhammad bin Tughluq dan menjabat selama delapan tahun penuh. Ia kemudian diutus sebagai duta besar ke Kaisar Tiongkok, membawa hadiah berupa seratus kuda ras murni, seratus budak, dan ribuan potong kain berharga. Seorang Muslim dari Maroko menjadi diplomat terhormat di istana terbesar dunia.

Kapalnya pernah diserang bajak laut di perairan Sumatera, namun ia selamat dan terdampar di Kerajaan Samudera Pasai, Aceh, pada tahun 1345. Selama dua pekan, ia menjadi tamu resmi Sultan Al Malikus Zahir, mencatat bahwa negeri ini adalah bagian dari jantung dunia Islam yang terhormat, bukan sekadar pelabuhan pinggiran seperti yang diceritakan penjajah belakangan.

Setelah dua dekade, ia belum puas. Ia menyeberangi Gurun Sahara selama dua bulan dengan karavan unta, tiba di Kekaisaran Mali, dan melanjutkan ke Timbuktu.

Di sana ia melihat kuda nil untuk pertama kali, mengamati perdagangan garam sebagai mata uang, dan bertemu langsung dengan Mansa Sulaiman. Seorang musafir Muslim telah menguak Afrika Barat jauh sebelum Eropa mengklaimnya.

Ketika pulang ke Maroko, Sultan Abu Inan Faris memaksanya mendiktekan seluruh pengalamannya kepada Ibnu Juzay, sang sekretaris kesultanan. Lahirlah Rihlah, catatan perjalanan seribu halaman yang menjadi sumber rujukan dunia tentang peradaban abad ke-14.

Namun buku ini lebih banyak dibaca di kalangan terpelajar Islam, sementara dunia Barat memilih mengagung-agungkan penjelajah mereka sendiri yang perjalanannya jauh lebih pendek dan catatannya jauh lebih tipis.

(Sumber: Filsufsejati)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....