Apakah Hiu akan Tenang atau Menjaga Jarak saat didekati Manusia
- 20 Agt 2026 08:12 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Perbedaan perilaku hiu terhadap kehadiran manusia dipengaruhi oleh kombinasi strategi berburu, habitat alami, serta tingkat adaptasi mereka terhadap lingkungan sosial. Setiap spesies hiu telah berevolusi selama jutaan tahun untuk merespons ancaman dan potensi makanan dengan cara yang sangat spesifik. Faktor-faktor biologis dan ekologis inilah yang menentukan apakah suatu spesies hiu akan bersikap tenang saat didatangi manusia atau justru melarikan diri untuk menjaga jarak.
Spesies hiu yang cenderung tenang, mudah didekati, atau bahkan dapat disentuh manusia—seperti hiu paus (Rhincodon typus), hiu perawat (Ginglymostoma cirratum), dan hiu karang (Triaenodon obesus)—umumnya memiliki sifat alami yang lambat dan bernilai adaptatif rendah terhadap ancaman besar. Sebagian dari mereka adalah pemakan plankton yang tidak menganggap manusia sebagai ancaman maupun mangsa. Sementara itu, jenis hiu bentik (penghuni dasar laut) terbiasa beristirahat di dasar perairan dan memiliki metabolisme yang lebih lambat, sehingga mereka tidak merespons kehadiran penyelam dengan kepanikan selama tidak diprovokasi secara berlebihan.
Sebaliknya, jenis hiu pemangsa pelagis yang aktif seperti hiu martil (Sphyrna), hiu mako (Isurus oxyrinchus), dan banyak spesies hiu perairan terbuka memilih untuk segera menjauhi manusia. Hiu-hiu ini sangat sensitif terhadap gerakan, getaran air, dan gelombang gelembung yang dihasilkan oleh peralatan selam manusia. Bagi predator pemalu yang menggantungkan hidupnya pada kelincahan dan indra pencerapan yang tajam di laut lepas, suara atau bentuk asing yang besar di dalam air akan dianggap sebagai ancaman bahaya yang memicu respons fight-or-flight untuk segera berenang menjauh.
Pengalaman dan interaksi yang berulang dengan aktivitas manusia (habituation) juga memegang peranan penting. Di daerah-daerah tempat wisata selam di mana hiu kerap diumpani (shark feeding) atau terbiasa melihat kehadiran penyelam setiap hari, hiu dapat kehilangan rasa takut alaminya (desensitization). Hiu yang berada di kawasan konservasi atau lokasi ekowisata aktif cenderung jauh lebih toleran terhadap jarak dekat dengan manusia dibandingkan spesies sama yang hidup di perairan liar yang jarang tersentuh aktivitas manusia.
Faktor anatomi dan posisi dalam rantai makanan turut menentukan respons biologis tersebut. Predator puncak yang mengandalkan serangan kejutan, seperti hiu putih besar (Carcharodon carcharias), sangat memperhitungkan efisiensi energi dan risiko cedera saat berinteraksi dengan objek asing. Menjaga jarak dari wujud yang tidak dikenal merupakan naluri bertahan hidup yang efektif untuk menghindari potensi bahaya, sehingga sebagian besar spesies hiu pada dasarnya secara alami memilih menghindari kontak langsung dengan manusia jika diberikan pilihan.(www.nrm.se)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....