Mengapa Pasir Laut Tidak Ideal untuk Konstruksi Bangunan?

  • 29 Jul 2026 17:31 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Penggunaan pasir laut sebagai bahan bangunan utama pada dasarnya tidak direkomendasikan dan sangat tidak ideal untuk konstruksi struktural. Meskipun ketersediaannya melimpah di wilayah pesisir, karakter fisik dan kimia pasir laut memiliki kelemahan kritis yang dapat membahayakan ketahanan serta keamanan bangunan. Dibandingkan dengan pasir sungai atau pasir gunung, pasir laut menyimpan potensi risiko kerusakan jangka panjang yang jauh melebihi kemudahan aksesnya.

Masalah utama pasir laut terletak pada kandungan garamnya (natrium klorida) yang sangat tinggi. Garam bersifat higroskopis, yang berarti pasir ini akan terus menarik dan menyerap kelembapan dari udara bahkan setelah semen mengering. Kelembapan berbahan garam ini memicu korosi cepat pada besi tulangan di dalam beton. Saat besi berkarat, volumenya membengkak dan menghasilkan tekanan internal yang kuat, membuat beton retak, terkelupas, hingga kehilangan kekuatan strukturnya dari dalam.

Dari segi fisik, bentuk butiran pasir laut juga tidak memenuhi standar material konstruksi. Gesekan gelombang laut selama ribuan tahun mengikis sudut-sudut butiran pasir hingga menjadi sangat halus, bulat, dan berukuran relatif seragam. Dalam campuran beton, dibutuhkan butiran pasir yang bersudut tajam dan bervariasi ukurannya agar dapat saling mengunci (interlocking) dengan kuat bersama semen dan kerikil. Pasir laut yang licin dan bulat sulit terikat dengan rapat, sehingga mengurangi daya tekan (compressive strength) beton secara signifikan.

Selain garam dan bentuk butirannya, pasir laut umumnya tercampur dengan pecahan cangkang kerang serta materi organik laut. Cangkang kerang terbuat dari kalsium karbonat yang rapuh dan berongga, yang menciptakan titik-titik lemah di dalam struktur beton saat menerima beban berat. Sementara itu, zat organik dapat mengganggu proses hidrasi semen—reaksi kimia penting yang membuat semen mengeras dengan sempurna—sehingga adonan semen menjadi lambat mengering atau gagal mencapai kekerasan maksimum.

Meskipun pasir laut secara teknis bisa dicuci untuk mengurangi kadar garamnya, proses desalinasi tersebut membutuhkan biaya yang tinggi dan volume air bersih yang luar biasa banyak. Pengerukan pasir laut secara masif juga memicu abrasi pantai dan merusak ekosistem pesisir. Oleh karena itu, menggunakan pasir sungai atau pasir hasil olahan batu (manufactured sand) tetap menjadi pilihan yang jauh lebih aman, ekonomis, dan berkelanjutan untuk menjamin kekuatan bangunan dalam jangka panjang. (marifa.id)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....