Jejak Jukung: Sejarah Perahu dan Nadir Peradaban Sungai di Banjarmasin
- 25 Jul 2026 16:18 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Sejarah perkembangan perahu di Banjarmasin berakar kuat pada julukan "Kota Seribu Sungai" yang telah melekat sejak ratusan tahun lalu. Bagi masyarakat suku Banjar, sungai bukan sekadar bentang alam geografis, melainkan urat nadi kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Di tengah topografi rawa dan perairan yang melingkupi kawasan Kalimantan Selatan, perahu—yang dalam bahasa lokal dikenal dengan sebutan jukung—hadir sebagai benteng peradaban awal. Ungkapan tradisional Banjar yang berbunyi "Kada ada urang Banjar lamun kada ada jukung" menegaskan betapa identitas, mobilitas, dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal senantiasa bertaut rapat dengan keberadaan perahu.
Bentuk perahu tertua di tanah Banjar adalah Jukung Sudur, sebuah perahu monoksil sederhana yang dibuat dari satu batang kayu utuh dengan cara dikerok bagian tengahnya. Teknologi pembuatan perahu purba ini telah ada sejak abad ke-15 dan digunakan untuk melintasi anak-anak sungai sempit serta kawasan rawa guna berburu maupun menangkap ikan. Seiring berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16, penguasaan teknologi maritim mengalami lompatan besar. Masyarakat mulai mengenal teknik papan susun rata menggunakan kayu ulin—sejenis kayu besi lokal yang terkenal sangat tangguh dan tahan terhadap air asin maupun tawar. Perkembangan ini melahirkan berbagai bentuk perahu yang lebih kompleks untuk mendukung pergerakan logistik kerajaan dan perdagangan regional.
Kejayaan perahu tradisional Banjar mencapai puncaknya pada abad ke-18 dengan lahirnya Jukung Tambangan, sebuah karya arsitektur air yang dibangun tanpa menggunakan paku besi. Seluruh konstruksinya dirakit dengan teknik pasak kayu yang sangat presisi, dilengkapi atap sirap kayu ulin serta hiasan ukiran bermotif khas seperti daun jaruju melayap. Pada mulanya, Jukung Tambangan berfungsi sebagai kendaraan prestise bagi kalangan bangsawan, ulama, dan saudagar kaya sebelum akhirnya meluas menjadi sarana transportasi massal. Keberadaan jukung ini juga mendorong maraknya tradisi Pasar Terapung di Muara Kuin dan Lok Baintan, tempat di mana transaksi ekonomi masyarakat pesisir berlangsung sepenuhnya di atas permukaan air.
Peran perahu di Banjarmasin tidak hanya terbatas pada sektor perdagangan, tetapi juga terukir dalam lembaran sejarah perjuangan melawan kolonialisme. Selama berkecamuknya Perang Banjar (1859–1906), jukung ditransformasikan menjadi armada gerilya air yang sangat efektif oleh para pejuang Banjar. Berkat ukurannya yang lincah dan draf perahu yang dangkal, jukung mampu menyusup hingga ke rawa-rawa tersembunyi dan anak sungai terkecil untuk melancarkan serangan dadakan terhadap pertahanan Belanda. Strategi manuver cepat di atas air ini berulang kali menyulitkan kapal-kapal perang kolonial yang berukuran lebih besar dan berbobot berat saat mencoba memasuki wilayah perairan pedalaman.
Memasuki era modernisasi pada pertengahan abad ke-20, lanskap perairan Banjarmasin mengalami pergeseran fungsi dengan hadirnya mesin tempel diesel. Bunyi khas mesin yang berdegup nyaring di atas perahu kayu kemudian melahirkan istilah perahu kelotok, yang hingga kini menjadi armada utama transportasi sungai masyarakat Kalimantan Selatan. Meskipun jukung kayuh tradisional seperti Tambangan perlahan memudar dari lalu lintas harian, keberadaan jukung dayung tetap dilestarikan oleh para pedagang wanita di Pasar Terapung serta dijadikan lambang resmi Kota Banjarmasin. Perjalanan panjang dari Jukung Sudur hingga perahu Kelotok membuktikan bahwa sejarah perahu adalah cermin abadi dari daya adaptasi dan kebudayaan sungai suku Banjar. (1001indonesia.net)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....