Mengenal Perahu Wair dari Teluk Cendrawasih

  • 23 Jul 2026 22:04 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Jauh sebelum teknologi modern menyentuh perairan Nusantara, suku Biak di Teluk Cenderawasih telah mengukuhkan diri sebagai para pengelana laut yang tangguh. Ketangguhan mereka di samudra tidak lepas dari keberadaan perahu tradisional yang menjadi mahakarya warisan leluhur, yaitu Perahu Wair—atau yang kerap dikenal pula sebagai Perahu Wai Wambasi. Perahu layar ini bukan sekadar alat transportasi air sederhana, melainkan sarana navigasi andal yang membawa para pelaut Biak menjelajahi lautan luas hingga ke wilayah Maluku, Halmahera, bahkan mencatatkan jejak sejarah perdagangan hingga ke belahan samudra yang jauh.

Dari segi arsitektur, Perahu Wair memiliki desain khas yang memadukan estetika budaya dan efisiensi aerodinamika. Perahu ini mengandalkan cadik (outrigger) dari bambu atau kayu ringan di sisinya sebagai penyeimbang utama agar tidak mudah terbalik saat diterjang ombak laut lepas. Elemen paling mencolok berada pada lambung dan haluannya yang sering kali dihiasi ukiran bermotif leluhur atau hewan laut spiritual, serta penggunaan layar tradisional berbentuk segitiga atau cakar kepiting (crab-claw sail). Kombinasi cadik yang kokoh dan bentangan layar ini memungkinkan Perahu Wair memanfaatkan dorongan angin secara optimal untuk menembus lautan tajam.

Proses pembuatan Perahu Wair sarat akan kearifan lokal dan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Bahan utamanya dipilih secara cermat dari kayu-kayu pilihan di hutan hujan Papua yang terkenal kuat, tahan terhadap korosi air asin, serta tidak mudah lapuk. Pembuatan perahu ini bukanlah pekerjaan individu, melainkan proses kolektif yang melibatkan gotong royong anggota klan. Mulai dari pemotongan pohon, pengerukan batang, hingga perakitan akhir, seluruh tahapannya diiringi oleh serangkaian ritual adat dan doa keselamatan guna memohon perlindungan dari roh leluhur serta penguasa laut.

Bagi masyarakat Biak, Perahu Wair memegang peranan yang sangat vital dalam struktur sosial dan perekonomian masa lalu. Perahu ini digunakan untuk kegiatan melaut, berdagang barter antar-pulau, hingga perjalanan ekspedisi antar-suku yang memperkuat hubungan kemasyarakatan. Lebih dari itu, Perahu Wair adalah simbol kemandirian dan kebanggaan bahari; ukuran perahu serta keindahan ukirannya sering kali menjadi penanda status sosial, keberanian, serta keahlian bertualang dari pemiliknya atau pemimpin kelompok pelaut tersebut.

Meskipun saat ini gelombang modernisasi telah menggantikan peran perahu layar dengan perahu bermotor mesin tempel, Perahu Wair tetap menduduki posisi terhormat dalam warisan kebudayaan Papua. Keberadaannya kini terus dilestarikan sebagai identitas visual kebaharian suku Biak, yang kerap dihadirkan dalam festival-festival budaya regional maupun pameran seni bahari nasional. Melalui kelestarian Perahu Wair, masyarakat Papua tidak hanya merawat sebuah fisik perahu tradisional, tetapi juga menjaga api sejarah kejayaan para pengelana samudra dari timur Indonesia. (econusa.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....