Pornografi Membentuk Persepsi Keliru Relasi dan Perhatian Remaja
- 22 Jul 2026 10:15 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Pornografi tidak sekadar menyajikan konten dewasa, tetapi juga menghadirkan "skrip" tentang tubuh, relasi, dan seksualitas yang sering kali tidak realistis serta tidak sehat. Berbeda dengan sekolah yang memiliki silabus sebagai pedoman pembelajaran, pornografi membangun narasi yang mengabaikan nilai-nilai penting seperti persetujuan, komunikasi yang dewasa, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Sebaliknya, manusia kerap digambarkan sebagai objek, sementara sensasi diposisikan sebagai hal yang utama.
Dampak dari narasi tersebut tidak berhenti pada ranah pribadi, melainkan dapat merembes ke lingkungan pendidikan. Anak dan remaja yang sedang membangun pemahaman tentang relasi berisiko menyerap pesan yang keliru, seolah hubungan antarmanusia berlangsung tanpa empati, tanpa batas, dan tanpa tanggung jawab. Persepsi yang salah ini dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain.
Di lingkungan sekolah, pemahaman yang keliru tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk perilaku, seperti candaan yang melecehkan, komentar yang melanggar batas, perundungan bernuansa seksual, hingga cara memandang teman sebaya sebagai objek atau "target", bukan sebagai individu yang memiliki martabat dan hak untuk dihormati. Kondisi ini berpotensi mengganggu terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Di sisi lain, pornografi juga berkaitan dengan cara kerja ekonomi perhatian (attention economy). Konten-konten digital yang menawarkan video pendek, gulir tanpa henti, dan rangsangan instan dirancang untuk mempertahankan fokus pengguna selama mungkin. Dalam kondisi tersebut, pornografi tidak selalu "menang" karena informasi yang disampaikan benar, melainkan karena mampu menarik perhatian melalui mekanisme yang memicu respons neurologis secara cepat.
Karena itu, penguatan literasi digital, pendidikan karakter, dan komunikasi terbuka di lingkungan keluarga maupun sekolah menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan anak dan remaja. Pendampingan yang tepat akan membantu mereka memahami perbedaan antara informasi yang mendidik dan konten yang dapat membentuk persepsi keliru mengenai relasi, penghormatan terhadap sesama, serta penggunaan media digital secara bijak. ( Sumber : Kemkes Ri )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....