Bintang Laut Mahkota Duri: Sang Predator Eksotis Pembawa Ancaman Terumbu Karang
- 27 Jun 2026 18:32 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Bintang laut mahkota duri (Acanthaster planci) merupakan salah satu organisme laut yang paling mencolok sekaligus kontroversial di ekosistem terumbu karang tropis. Masuk ke dalam kelas Asteroidea, makhluk purba ini memiliki adaptasi morfologi yang sangat berbeda dari bintang laut pada umumnya yang biasanya hanya memiliki lima lengan. Sebaliknya, bintang laut mahkota duri dewasa dapat menumbuhkan hingga 21 lengan yang menyebar dari cakram pusat tubuhnya. Dengan diameter yang bisa mencapai 40 sentimeter, hewan ini menjadi salah satu spesies bintang laut terbesar di dunia yang mendominasi kawasan perairan hangat Indo-Pasifik.
Daya tarik utama sekaligus senjata paling mematikan dari hewan ini terletak pada ribuan duri tajam yang menyelimuti seluruh permukaan atas tubuhnya. Duri-duri yang panjangnya bisa mencapai 5 sentimeter ini mengandung racun berbahaya jenis saponin, yang berfungsi sebagai sistem pertahanan diri yang sangat efektif melawan predator. Bagi manusia, tusukan dari duri Acanthaster planci dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, pembengkakan, mual, hingga infeksi berkepanjangan. Kombinasi warna tubuh mereka yang bervariasi—mulai dari ungu tua, hijau keabu-abuan, hingga merah menyala—sebenarnya merupakan sinyal peringatan (aposematisme) bagi makhluk laut lain agar tidak mendekat.
Di balik penampilannya yang eksotis, bintang laut mahkota duri adalah predator oportunistik yang sangat rakus dengan spesialisasi makanan berupa polip karang keras (scleractinia). Cara makan hewan ini tergolong unik dan mengerikan; mereka akan membalikkan perutnya keluar (evaginasi) melalui mulut di bagian bawah tubuh, lalu menempelkannya langsung ke koloni karang. Perut tersebut kemudian mengeluarkan enzim pencernaan yang kuat untuk mencairkan jaringan hidup polip karang dan menyerap nutrisinya langsung di tempat. Proses ini meninggalkan jejak berupa kerangka kapur karang yang putih bersih dan mati, mengubah terumbu karang yang tadinya penuh warna menjadi hamparan kuburan batu yang gersang.
Dalam kondisi ekosistem yang seimbang, kehadiran Acanthaster planci sebenarnya memiliki peran ekologis positif karena mereka mengonsumsi karang yang tumbuh cepat, sehingga memberi kesempatan bagi spesies karang yang lambat tumbuh untuk berkembang. Namun, masalah besar muncul ketika terjadi fenomena ledakan populasi (outbreak). Ketika jumlah mereka melonjak secara tidak terkendali, ribuan bintang laut ini akan bergerak layaknya tentara yang menyapu dan menghancurkan ratusan hektar terumbu karang dalam waktu singkat. Fenomena outbreak ini sering kali dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pencemaran limbah nutrisi ke laut yang menyuburkan makanan larva mereka, serta perburuan berlebihan terhadap Triton terompet (Charonia tritonis) dan ikan buntal yang merupakan predator alami mereka.
Upaya pengendalian bintang laut mahkota duri kini menjadi prioritas utama bagi para konservasionis dan penyelam di berbagai belahan dunia, termasuk di taman nasional laut Indonesia. Karena kemampuan regenerasi sel mereka yang luar biasa, memotong tubuh bintang laut ini justru akan membuat potongan tersebut tumbuh menjadi individu baru. Oleh karena itu, metode pengendalian modern dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan asam alami seperti cuka atau jus lemon langsung ke dalam tubuh mereka, atau mengumpulkannya secara manual untuk dikubur di darat. Menjaga populasi Acanthaster planci tetap berada di ambang batas normal adalah kunci krusial untuk menyelamatkan masa depan terumbu karang global dari ambang kehancuran. (barrierreef.org)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....