Lumba-Lumba, Si Cerdas di Samudera yang Punya Kebiasaan "Mabuk"
- 30 Apr 2026 16:42 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Meskipun dikenal sebagai hewan paling cerdas di samudera, lumba-lumba ternyata memiliki sisi perilaku yang unik dan cukup mengejutkan terkait kebiasaan "mabuk" mereka di alam liar. Kecerdasan luar biasa yang mereka miliki, yang sering dianggap menyaingi primata besar, memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi lingkungan dengan cara-cara yang sangat kompleks, termasuk mencari efek sensasi tertentu dari makhluk laut lainnya.
Fenomena ini biasanya terlihat ketika lumba-lumba remaja secara sengaja mempermainkan ikan buntal (pufferfish) dengan cara mengunyah atau mengoper ikan tersebut di antara anggota kelompok lainnya. Ikan buntal yang merasa terancam akan mengeluarkan toksin bernama tetrodotoxin dalam dosis rendah sebagai bentuk pertahanan diri. Menariknya, lumba-lumba justru memanfaatkan racun saraf ini untuk mendapatkan efek narkotik atau sensasi melayang yang membuat mereka tampak dalam kondisi seperti mabuk atau trans.
Dalam hal navigasi dan berburu, kemampuan mereka tetap tak tertandingi berkat sistem sonar alami canggih yang disebut ekolokasi. Melalui serangkaian bunyi klik frekuensi tinggi, mereka dapat memetakan posisi dan ukuran benda di sekitarnya dengan sangat akurat. Namun, perilaku unik dengan ikan buntal tadi menunjukkan bahwa kecerdasan mereka tidak hanya digunakan untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk interaksi sosial dan eksplorasi sensori yang bersifat rekreasional.
Keunikan lain dari cara kerja otak mereka terlihat pada teknik tidur unihemispheric, di mana hanya satu belahan otak yang beristirahat sementara belahan lainnya tetap waspada. Hal ini memastikan mereka tetap bisa mengontrol pernapasan dan menghindari bahaya meskipun sedang dalam kondisi rileks. Fleksibilitas otak inilah yang mungkin memungkinkan mereka untuk memproses efek zat asing dari ikan buntal tanpa kehilangan kendali total atas fungsi dasar tubuh mereka.
Secara sosial, lumba-lumba adalah makhluk komunikatif yang hidup dalam kelompok terorganisir yang disebut pod. Kebiasaan berinteraksi dengan ikan buntal ini sering dilakukan secara kolektif, memperkuat ikatan antar individu melalui aktivitas bersama yang unik. Dengan "siulan identitas" masing-masing, mereka tetap menjalin koordinasi yang erat bahkan saat sedang menikmati efek dari toksin tersebut, membuktikan betapa kompleksnya kehidupan sosial dan kognitif mereka di bawah permukaan laut.(smithsonianmag.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....