Temberungun - Siput Khas Kalimantan Utara
- 27 Jan 2026 08:22 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Siput temberungun, atau sering juga disebut siput temberongon, merupakan salah satu jenis moluska gastropoda yang menjadi ciri khas ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara, serta wilayah Sabah dan Sarawak. Secara fisik, siput ini memiliki cangkang yang sangat kuat, keras, dan berbentuk kerucut meruncing dengan tekstur ulir yang kasar. Warna cangkangnya yang cenderung cokelat gelap hingga hitam legam memungkinkan hewan ini untuk berkamuflase dengan sempurna di antara akar-akar pohon bakau dan hamparan lumpur yang menjadi habitat utamanya.
Kehidupan siput temberungun sangat bergantung pada pasang surut air laut dan kelestarian hutan bakau. Mereka biasanya ditemukan menempel di bagian bawah batang pohon bakau atau bersembunyi di dalam lumpur yang lembap untuk menjaga kelembapan tubuhnya saat air sedang surut. Kehadiran siput ini dalam jumlah yang melimpah sering kali dianggap oleh masyarakat lokal sebagai indikator bahwa lingkungan mangrove tersebut masih sehat dan belum tercemar oleh limbah industri, karena mereka sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dan tanah di habitatnya.
Dalam tradisi kuliner masyarakat pesisir Kalimantan, temberungun menempati posisi sebagai bahan makanan eksotis yang sangat digemari. Keunikan dari menyantap siput ini terletak pada cara persiapannya; bagian ujung cangkang yang lancip harus dipotong terlebih dahulu menggunakan parang. Hal ini dilakukan agar saat dimasak, udara dapat mengalir sehingga daging siput yang kenyal bisa dikeluarkan dengan cara disedot langsung dari mulut cangkang. Sensasi "menyedot" inilah yang memberikan pengalaman makan yang khas dan interaktif bagi para penikmatnya.
Dari segi nilai gizi dan khasiat, masyarakat setempat meyakini bahwa konsumsi siput temberungun memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh. Selain kaya akan protein hewani dan mineral esensial seperti kalsium dan zat besi, temberungun sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit kuning atau gangguan hati. Selain itu, tekstur dagingnya yang padat dipercaya dapat meningkatkan stamina serta membantu proses pemulihan bagi penderita asma, menjadikannya bukan sekadar santapan lezat tetapi juga obat alami dari laut.
Meskipun permintaan pasar terhadap siput temberungun cukup tinggi, keberadaannya saat ini mulai menghadapi tantangan akibat kerusakan hutan mangrove dan alih fungsi lahan. Karena siput ini belum banyak dibudidayakan secara komersial dan masih bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan alam, kelestariannya sangat bergantung pada perlindungan area bakau. Upaya menjaga hutan mangrove bukan hanya soal melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga menyelamatkan harta karun kuliner dan sumber protein lokal seperti temberungun agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.(dimensiindonesia.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....